“Ritual ini kan sesuatu yang sifatnya mutlak, kalau dalam Islam mungkin syariat ya. Kemudian kalau Kristen ada beberapa tata cara beribadah, Hindu, Buddha mereka juga seperti itu,” tambahnya.
“Nah, itu kita pasti akan sedikit enggan berkomedi di ranah itu. Bahkan meskipun itu agama kita sendiri. Misalnya saya Islam, kemudian berkomedi tentang Islam,” terangnya.
Meski demikian, Arie Kriting menilai masih ada ruang komedi yang tidak masuk kategori penistaan agama, yakni dengan mengangkat kebiasaan sosial yang berkembang di masyarakat, bukan ajaran atau ritual keagamaan itu sendiri.
“Misalnya nih, kebiasaan salat Id bawa alas koran. Itu tidak pernah dianjurkan dalam agama dan di dalam hadits. Tapi itu kebiasaan masyarakat saja yang mungkin malas sajadahnya basah kalau di lapangan rumput, jadi bawa koran,” jelasnya.
“Saya punya materinya itu, saya nggak suka begitu karena kalau pakai koran, kadang namanya iman lemah, kita lagi salat baca sesuatu yang sensual kan jadi kebayang ya, ‘Astaghfirullah, ini sambungannya mana?’” lanjutnya.***