Menurut Deputi Ekosistem Kreatif ICCN, Zandri Aldrin, kekuatan utama dari acara ini terletak pada keterlibatan langsung seluruh pemangku kepentingan.
“Pendekatan ini membuka ruang dialog antara gagasan dan praktik, sehingga hasilnya lebih kontekstual dan aplikatif,” katanya.
Tidak hanya berhenti pada diskusi, para peserta juga diajak masuk lebih dalam ke kawasan budaya melalui program residensi dan sekolah bambu di Boon Pring.
Pendekatan berbasis pengalaman ini diharapkan mampu membangun satu ekosistem yang utuh bagi pengembangan kawasan budaya berbasis masyarakat.
Dadik Wahyu Chang, Deputi Kemitraan Strategis ICCN, menekankan bahwa festival ini hanyalah titik awal.
“Festival ini dirancang sebagai titik awal kerja sama yang lebih luas, termasuk dengan pemerintah, kampus, komunitas, dan sektor swasta,” ujarnya.
Melalui Indonesia Culture dan Creative Festival 2026, ICCN berharap dapat merumuskan rekomendasi kebijakan yang kuat bagi pengembangan kawasan budaya di Indonesia, di mana perlindungan lingkungan dan pengembangan ekonomi berjalan beriringan.***