nasional

Ekonom INDEF Dorong Indonesia Masuki Tatanan Ekonomi Baru, Evaluasi Total Strategi Pembangunan Nasional

Rabu, 10 Juni 2026 | 13:20 WIB
Ekonom INDEF sekaligus Dosen FEB UMB Agus Herta Sumarto.desak evaluasi total strategi pembangunan nasional menuju tatanan ekonomi baru yang mandiri. (Dok. Pribadi)

 

Mediapriangan.com - Langkah besar harus segera diambil oleh Indonesia di tengah ketidakpastian global yang kian memuncak. Evaluasi total terhadap strategi pembangunan nasional kini menjadi urgensi utama agar bangsa ini tidak hanya terjebak dalam mengejar angka pertumbuhan, melainkan fokus membangun ketahanan ekonomi yang berdaulat. Indonesia tidak boleh lagi rapuh oleh gejolak eksternal dan harus berani melangkah menuju tatanan ekonomi baru.

Pandangan kritis ini disampaikan oleh Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana (FEB UMB), Agus Herta Sumarto. Ia memberikan analogi menarik bahwa pengelolaan ekonomi sebuah negara sangat mirip dengan taktik dalam pertandingan olahraga besar.

"Dalam dunia sepak bola, kemenangan sering kali ditentukan oleh keberanian mengubah strategi. Ketika pola permainan lama tidak lagi efektif, pelatih melakukan penyesuaian taktik, mengganti pemain, bahkan mengubah formasi untuk mengejar hasil yang lebih baik," ujar Agus Herta Sumarto dalam keterangan tertulisnya, Rabu 10 Juni 2026.

Menurut Agus, perubahan arah angin global dan munculnya berbagai kelemahan struktural domestik menuntut pemerintah untuk tidak tabu melakukan evaluasi.

"Tujuannya bukan menafikan keberhasilan masa lalu, melainkan memastikan bahwa pembangunan mampu menjawab tantangan masa depan," tegas Ekonom INDEF tersebut.

Baca Juga: Dasco Ungkap Isi Pertemuan Chatib Basri dan Prabowo, Fokus Bahas Strategi Pertumbuhan Ekonomi

Koreksi Atas Ketergantungan Global dan Hot Money

Melihat rekam jejak beberapa dekade ke belakang, strategi pembangunan nasional di masa lalu memang mampu melahirkan angka pertumbuhan yang tinggi. Namun, Agus mengingatkan adanya bom waktu berupa kerapuhan struktural akibat integrasi pasar global yang terlalu dalam tanpa benteng domestik yang kokoh.

"Selama puluhan tahun Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi dengan keyakinan bahwa keterbukaan pasar, investasi, dan integrasi global pada akhirnya akan membawa bangsa ini menuju kemakmuran. Sebagian keberhasilan memang tercapai. Namun semakin sering dunia diguncang krisis, semakin jelas terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan ketahanan ekonomi," jelasnya secara rinci.

Baca Juga: JAZIRAH x CCE 2026 Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah Priangan Timur

Salah satu bukti nyata ketidakseimbangan ini terlihat pada sektor industri. Industrialisasi yang berjalan selama ini rupanya masih ditopang oleh ketergantungan tinggi pada rantai pasok luar negeri, bukan pada fondasi sektor riil dalam negeri yang mandiri.

"Industrialisasi berkembang, tetapi sebagian besar masih bergantung pada bahan baku, komponen, mesin, dan teknologi impor. Akibatnya, ketika nilai tukar rupiah melemah atau rantai pasok global terganggu, biaya produksi nasional ikut melonjak dan daya saing industri domestik tertekan," kata dosen FEB UMB ini.

Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan pada arus modal asing jangka pendek (hot money) untuk menutup defisit transaksi berjalan. Skema ini dinilai sangat berisiko memicu krisis finansial saat sentimen global bergejolak.

Halaman:

Tags

Terkini