"Nasionalisme ekonomi bukanlah sikap anti-asing, melainkan keberpihakan yang rasional terhadap kepentingan nasional. Bentuknya dapat berupa kebanggaan menggunakan produk dalam negeri yang berkualitas, dukungan terhadap industri nasional, peningkatan penggunaan komponen lokal, serta tumbuhnya kecintaan terhadap mata uang rupiah sebagai simbol kedaulatan ekonomi bangsa," sebutnya.
Berkaca pada kebangkitan raksasa ekonomi Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, lompatan besar mereka terjadi karena adanya integrasi kuat antara regulasi yang tepat dan kebanggaan kolektif masyarakat terhadap produk domestik.
"Dalam banyak kasus, negara-negara yang berhasil melakukan lompatan pembangunan bukan hanya karena memiliki kebijakan industri yang tepat, tetapi juga karena masyarakatnya memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuan bangsanya sendiri. Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok membangun industri nasionalnya tidak hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui kebanggaan kolektif terhadap produk dan kemampuan domestik," imbuhnya.
Nilai Tukar Hanyalah Refleksi Sektor Riil
Di akhir analisisnya, Agus memaparkan esensi utama dari kekuatan ekonomi. Stabilitas moneter maupun nilai tukar rupiah pada dasarnya hanyalah akibat, sementara sebab utamanya berada pada kekuatan kapasitas produksi riil di sektor vital.
"Pada akhirnya, kekuatan sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa kuat mata uangnya, melainkan oleh seberapa besar kemampuannya memenuhi kebutuhan strategisnya sendiri. Nilai tukar hanyalah cermin. Yang menentukan isi pantulannya adalah kemampuan bangsa memproduksi pangan, menguasai energi, dan mengembangkan teknologi," jelas Agus.
Sejarah mencatat bahwa kemakmuran yang hanya berbasis pada sektor finansial semu tidak akan bertahan lama tanpa adanya ketahanan ekonomi berbasis kemandirian produksi yang nyata.
Baca Juga: Rachmat Amir Sudyana Soroti Lemahnya Fondasi Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya
"Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar tidak lahir karena mereka memiliki mata uang yang kuat atau pasar keuangan yang besar. Mereka menjadi besar karena memiliki kemampuan memproduksi apa yang mereka butuhkan, menguasai teknologi yang menentukan masa depan, serta membangun ketahanan ekonomi yang tidak mudah diguncang oleh perubahan arah angin global," ungkapnya.
Kini, di tengah pergeseran geopolitik global, Indonesia sedang berkejaran dengan waktu untuk membenahi diri dan mengakselerasi strategi pembangunan nasional demi masa depan.
"Tatanan ekonomi dunia sedang berubah. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia harus berubah, melainkan seberapa cepat kita mampu memperkuat fondasi kemandirian nasional. Sebab pada akhirnya, bangsa yang benar-benar merdeka bukanlah bangsa yang paling kaya, melainkan bangsa yang mampu berdiri tegak di atas kekuatan ekonominya sendiri," pungkas Agus Herta Sumarto.***
Artikel Terkait
Ekonomi Kreatif Cianjur Melesat, Kampung Influencer Hadir Jadi Wadah Gratis Cetak Kreator Digital
Transformasi Ekonomi Digital Kota Tasikmalaya, Volume QRIS Priangan Timur Tumbuh Pesat hingga 579 Persen
Rachmat Amir Sudyana Soroti Lemahnya Fondasi Ekonomi Kabupaten Tasikmalaya
Wabup Tasikmalaya: Koperasi Merah Putih Jadi Mesin Penggerak Ekonomi Desa