"Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi," jelasnya.
"Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," tukas Sudaryono.
Di sisi lain, penghentian diskusi tersebut mendapat pembelaan dari kalangan mahasiswa UGM. Salah seorang anggota Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, Mesa, menilai tindakan menghentikan acara merupakan bentuk kritik pemerintah yang disampaikan secara terbuka.
Menurut Mesa, pemerintah seharusnya tidak memandang kritik sebagai gangguan terhadap jalannya pemerintahan. Ia menilai ruang demokrasi harus tetap memberikan tempat bagi suara masyarakat, termasuk yang disampaikan melalui aksi protes.
"Mereka tidak layak membicarakan Pancasila selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat," kata Mesa.
"Selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat," tegasnya.
Mesa juga menilai gesekan yang muncul dalam forum dialog tersebut merupakan konsekuensi dari ketegangan antara masyarakat dan pemerintah ketika aspirasi dianggap tidak mendapat respons yang memadai.
"Gesekan itu justru terjadi karena mereka banyak mengibul, mereka banyak berbohong," ujar Mesa.
"Gesekan-gesekan yang terjadi tadi justru memang hal yang wajar dalam negara demokrasi," tandasnya.***