Di Balik Angka 3,8 Juta Anak Tidak Sekolah, Pemkab Tasikmalaya Bergerak Selamatkan Masa Depan Mereka

photo author
Dede Farhan Kamil, Media Priangan
- Rabu, 26 November 2025 | 14:48 WIB
Pemkab Tasikmalaya menutup rangkaian Bimtek ATS, membekali 1.062 kepala sekolah strategi menyelamatkan anak di tengah krisis 3,8 juta ATS nasional 2025. (D FarHan Kamil)
Pemkab Tasikmalaya menutup rangkaian Bimtek ATS, membekali 1.062 kepala sekolah strategi menyelamatkan anak di tengah krisis 3,8 juta ATS nasional 2025. (D FarHan Kamil)

 

 

Mediapriangan.com - Di balik angka 3,8 juta anak secara nasional tidak bersekolah karena putus sekolah, drop out dan belum pernah bersekolah, ada gerakan masif Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya untuk menyelamatkan masa depan bangsa.

Tangis, harapan, dan masa depan anak-anak, menjadi alasan utama Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menggelar rangkaian Bimbingan Teknis (Bimtek) pencegahan Anak Tidak Sekolah (ATS).

Setelah berjalan selama tujuh hari penuh di tujuh titik berbeda, kegiatan yang melibatkan 1.062 kepala sekolah dasar ini, akhirnya ditutup pada Rabu (26/11/2025).

Baca Juga: Disdikbud Kabupaten Tasikmalaya Tekankan Urgensi Penanganan Anak Putus Sekolah dalam Bimtek ATS

Di balik forum pelatihan tersebut, tersimpan realitas yang menghantui. Ratusan anak di Kabupaten Tasikmalaya, dan jutaan lainnya di seluruh Indonesia, masih terputus dari dunia pendidikan.

Data Dasbor Verifikasi dan Validasi ATS per 8 Juli 2025 mencatat 3.874.566 anak usia sekolah secara nasional, tidak sedang belajar di bangku pendidikan.

Angka sebesar itu bukan sekadar statistik. Di dalamnya terdapat kisah-kisah pilu, anak yang berhenti sekolah untuk membantu ekonomi keluarga, mereka yang menikah terlalu muda, hingga anak yang tak pernah mencicipi ruang kelas sama sekali.

Baca Juga: Wacana Stiker Keluarga Miskin Picu Polemik, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya Tegaskan Belum Ada Aturan Pemasangan

Ketua Pelaksana Bimtek sekaligus Kepala Seksi Kesiswaan Disdikbud Tasikmalaya, Suhendi Adi Zahra mengatakan, Bimtek ini digelar bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi panggilan nurani untuk melindungi masa depan anakanak daerah.

"Setiap kepala sekolah yang hadir membawa harapan baru bagi anakanak di wilayahnya. Mereka bukan hanya peserta pelatihan, tetapi ujung tombak penyelamat generasi,” kata Suhendi.

Ia menjelaskan bagaimana para kepala sekolah dilatih untuk mengidentifikasi satu per satu anak yang hilang dari sistem pendidikan, siapa mereka, di mana tinggalnya, dan apa alasan mereka terpaksa meninggalkan sekolah?

Baca Juga: Cegah Konflik Rumah Tangga, KUA Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya Gelar Binwin PraNikah

Anak-anak ucap Suhendi, ada yang memilih bekerja karena himpitan ekonomi, ada pula yang terseret tradisi sosial, dan tidak sedikit yang bahkan belum pernah mengecap bangku pendidikan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X