Longsor Cisarua Jadi Sorotan, Pegiat Lingkungan Tegaskan Alih Fungsi Lahan Bukan Penyebab Tunggal Bencana

photo author
Yiyin Sulastri, Media Priangan
- Sabtu, 31 Januari 2026 | 17:17 WIB
Longsor Cisarua ramai dibahas. Pegiat lingkungan buka analisis dan minta alih fungsi lahan tak dijadikan kambing hitam. (Instagram/aisyahbertani)
Longsor Cisarua ramai dibahas. Pegiat lingkungan buka analisis dan minta alih fungsi lahan tak dijadikan kambing hitam. (Instagram/aisyahbertani)

Baca Juga: 23 Marinir TNI AL Tertimbun Longsor Cisarua Saat Latihan, KSAL Ungkap Kendala Evakuasi

Menurut pegiat lingkungan tersebut, material longsor menutup aliran air di bagian atas, membentuk bendungan alami yang akhirnya jebol. Kondisi ini memicu luapan air bercampur sedimen dengan daya rusak tinggi.

"Air bercampur sedimen lalu jebol, diperparah oleh kemiringan lereng 20-25 persen," sebutnya.
"Aliran air lumpur, batu, dan pasir meluncur deras dan menghantam rumah-rumah warga," tambah Aisyah.

Aisyah menilai, kejadian longsor Cisarua menjadi bukti bahwa kawasan berhutan pun kini semakin rentan menghadapi cuaca ekstrem, terutama ketika tekanan lingkungan terus meningkat, terlepas dari ada atau tidaknya alih fungsi lahan.

"Apalagi jika alam terus dikorbankan," imbuhnya.

Baca Juga: Rekaman Udara Longsor Cisarua Viral di Media Sosial, Lereng Terbelah Jadi Sorotan Publik

Perubahan Iklim dan Risiko Bencana

Dalam analisisnya, pegiat lingkungan ini turut menyoroti dampak perubahan iklim global yang berkontribusi pada intensitas hujan ekstrem. Kondisi tersebut dinilai memperbesar risiko longsor Cisarua dan banjir bandang di wilayah pegunungan.

"Udara yang lebih panas, mampu menampung lebih banyak uap air," jelasnya.
"Saat hujan turun, air yang dilepaskan menjadi lebih deras dan berlangsung lebih lama," sambung Aisyah.

Ia menegaskan bahwa bencana yang melanda Cisarua tidak bisa dilepaskan dari krisis iklim yang semakin nyata, sehingga fokus solusi tidak cukup hanya membahas alih fungsi lahan semata.

"Bencana di Cisarua, hal yang kami alami ini adalah perubahan iklim," tegas Aisyah.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Ingatkan Fungsi Gunung Usai Longsor Cisarua, MUI Jabar Diminta Bangun Kesadaran Lingkungan

Petani Dinilai Justru Korban

Menutup pernyataannya, Aisyah kembali menekankan bahwa petani bukanlah penyebab utama longsor Cisarua, melainkan kelompok yang paling terdampak. Menurut pegiat lingkungan tersebut, keterbatasan kepemilikan lahan membuat posisi petani semakin rentan.

"Petani tidak memiliki banyak pilihan. Untuk hidup sejahtera, idealnya seorang petani membutuhkan sekitar 2 hektar lahan," tuturnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X