Harga Kedelai Masih Tinggi, Perajin Tahu Kota Tasikmalaya Banting Harga, Diky Chandra Minta Kompak

photo author
Asep M.S, Media Priangan
- Sabtu, 20 Juni 2026 | 10:30 WIB
Wakil wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Chandra Negara saat mengunjungi salah satu pabrik perajin tahu di Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya. (Dok. AMS)
Wakil wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Chandra Negara saat mengunjungi salah satu pabrik perajin tahu di Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya. (Dok. AMS)

TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Tingginya harga kedelai impor masih menjadi persoalan serius bagi perajin tahu di Kota Tasikmalaya. Kondisi tersebut tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga memicu persaingan harga yang dinilai semakin memberatkan pelaku usaha.

Para perajin tahu Kota Tasikmalaya yang tersebar di Kampung Cibanjaran, Kecamatan Mangkubumi, dan Kampung Nagrog, Kecamatan Indihiang, mengeluhkan harga kedelai impor yang masih berada di kisaran Rp11.500 hingga Rp12.000 per kilogram. Kenaikan harga bahan baku tersebut dinilai menjadi beban berat bagi keberlangsungan usaha mereka.

Menurut para perajin, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diduga menjadi salah satu faktor yang mendorong melonjaknya harga kedelai impor. Akibatnya, biaya produksi terus meningkat, sementara harga jual produk sulit disesuaikan dengan kondisi pasar.

Baca Juga: Kota Tasikmalaya Krisis Tahu Tempe, Harga Kedelai Melonjak, Pembeli Berburu ke Pasar Cikurubuk Usai Subuh

“Kami bingung, biaya produksi tinggi, kalau harga tahu dinaikkan juga tidak mungkin, pelanggan pada ngeluh dan banyak mencari penjual yang lebih murah," ujar Wati, salah seorang perajin tahu asal Indihiang, Sabtu (20/6/2026).

Wati mengatakan, tingginya harga kedelai semakin diperparah dengan belum adanya kesepahaman antarperajin dalam menentukan harga jual. Kondisi itu memicu perang harga tahu yang pada akhirnya merugikan para pelaku usaha sendiri.

"Ya sayangnya perajin justru tidak kompak dalam mematok harga, yang ada justru saling banting harga sehingga kondisi lebih tidak kondusif," katanya.

Harga kedelai masih tinggi membuat perajin tahu Kota Tasikmalaya tertekan. Diky Chandra mengimbau pelaku usaha tidak saling banting harga.
Harga kedelai masih tinggi membuat perajin tahu Kota Tasikmalaya tertekan. Diky Chandra mengimbau pelaku usaha tidak saling banting harga. (Dok. AMS)

Meski menghadapi tekanan usaha yang cukup berat, Wati mengaku tetap berupaya mempertahankan seluruh pekerjanya. Saat ini, pabrik yang dikelolanya masih mempekerjakan sekitar 20 orang karyawan.

"Sempat terpikir mengurangi karyawan, tapi kasihan. Mereka juga punya keluarga yang harus dihidupi," ungkap Wati.

Keluhan serupa disampaikan H. Imin, perajin tahu lainnya di Kota Tasikmalaya. Menurutnya, harga kedelai yang tinggi memberikan dampak signifikan terhadap keberlangsungan usaha para perajin tahu dan tempe.

Baca Juga: Kasus TB Kota Tasikmalaya Tembus 1.306 Orang, Dinkes Temukan Ribuan Suspek hingga Mei 2026

Walaupun terdapat program subsidi kedelai melalui Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI), ia menilai distribusinya belum merata sehingga belum bisa dirasakan seluruh pelaku usaha.

"Kuotanya terbatas, tidak semua kebagian. Padahal kami semua butuh. Kalau tidak merata, rasanya seperti tebang pilih," katanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X