Rating Bank BJB Turun, Saham Daerah 75,55 Persen dan NPL Naik Jadi 3,3 Persen

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Minggu, 13 September 2026 | 15:11 WIB
Logo Bank BJB terpampang di kantor perseroan di Banten. Rating Bank BJB turun di tengah kenaikan NPL dan kepemilikan pemerintah daerah 75,55 persen.  (Dok Bank BJB)
Logo Bank BJB terpampang di kantor perseroan di Banten. Rating Bank BJB turun di tengah kenaikan NPL dan kepemilikan pemerintah daerah 75,55 persen. (Dok Bank BJB)

Kenaikan berlanjut hingga Juni 2026 ketika NPL Bank BJB mencapai 3,3 persen.

Pada periode yang sama, rasio kredit dalam perhatian khusus atau special mention loans juga mengalami peningkatan. Rasio tersebut naik dari 2,7 persen pada akhir 2024 menjadi 3,8 persen pada akhir 2025, kemudian mencapai 4,3 persen pada Juni 2026.

Sementara itu, cakupan pencadangan terhadap NPL justru turun. Rasio tersebut berada di angka 91,6 persen pada akhir 2025 dan menjadi 85,8 persen pada Juni 2026.

Pergerakan indikator tersebut membuat pengawasan kredit menjadi semakin penting, mulai dari proses penyaluran, pemantauan kondisi debitur, penanganan kredit bermasalah hingga kecukupan pencadangan.

Baca Juga: Dugaan Korupsi Kredit Bank BJB KCK Banten Terbongkar, Dokumen Fiktif Picu Kerugian Negara Rp8,7 Miliar

Kredit Bermasalah Capai Rp3,81 Triliun

Tekanan terhadap kualitas aset juga tercermin dalam laporan keuangan Bank BJB per 31 Maret 2026 yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia.

Nilai kredit bermasalah konsolidasian saat itu tercatat sekitar Rp3,81 triliun.

Jika dilihat berdasarkan sektor ekonomi, kredit bermasalah terbesar berada pada kategori lain-lain dengan nilai sekitar Rp1,32 triliun.

Posisi berikutnya berasal dari sektor perdagangan sebesar Rp1,11 triliun, industri Rp651,53 miliar dan konstruksi Rp419,74 miliar.

Baca Juga: Susi Pudjiastuti Jadi Komisaris Utama Bank BJB, Targetkan Take Over Pinjol untuk Bantu Petani dan Nelayan

PEFINDO menilai pelemahan kemampuan pembayaran terutama terlihat pada debitur segmen kredit produktif. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi berkurangnya transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dan melemahnya kondisi usaha debitur.

Situasi itu menjadi perhatian karena Bank BJB memiliki basis pasar yang kuat di Jawa Barat dan Banten. Perseroan juga berada dalam ekosistem transaksi pemerintah daerah serta memiliki basis nasabah dari lingkungan aparatur sipil negara.

Kekuatan pasar tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang posisi bisnis Bank BJB. Namun, pertumbuhan kredit tetap perlu diikuti dengan pengendalian risiko agar peningkatan penyaluran tidak diikuti pemburukan kualitas aset.

Baca Juga: KDM Menuju Pilpres 2029: Menunggu Restu Prabowo atau Maju Bersama Gerindra?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X