Kenaikan berlanjut hingga Juni 2026 ketika NPL Bank BJB mencapai 3,3 persen.
Pada periode yang sama, rasio kredit dalam perhatian khusus atau special mention loans juga mengalami peningkatan. Rasio tersebut naik dari 2,7 persen pada akhir 2024 menjadi 3,8 persen pada akhir 2025, kemudian mencapai 4,3 persen pada Juni 2026.
Sementara itu, cakupan pencadangan terhadap NPL justru turun. Rasio tersebut berada di angka 91,6 persen pada akhir 2025 dan menjadi 85,8 persen pada Juni 2026.
Pergerakan indikator tersebut membuat pengawasan kredit menjadi semakin penting, mulai dari proses penyaluran, pemantauan kondisi debitur, penanganan kredit bermasalah hingga kecukupan pencadangan.
Kredit Bermasalah Capai Rp3,81 Triliun
Tekanan terhadap kualitas aset juga tercermin dalam laporan keuangan Bank BJB per 31 Maret 2026 yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia.
Nilai kredit bermasalah konsolidasian saat itu tercatat sekitar Rp3,81 triliun.
Jika dilihat berdasarkan sektor ekonomi, kredit bermasalah terbesar berada pada kategori lain-lain dengan nilai sekitar Rp1,32 triliun.
Posisi berikutnya berasal dari sektor perdagangan sebesar Rp1,11 triliun, industri Rp651,53 miliar dan konstruksi Rp419,74 miliar.
PEFINDO menilai pelemahan kemampuan pembayaran terutama terlihat pada debitur segmen kredit produktif. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi berkurangnya transfer pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dan melemahnya kondisi usaha debitur.
Situasi itu menjadi perhatian karena Bank BJB memiliki basis pasar yang kuat di Jawa Barat dan Banten. Perseroan juga berada dalam ekosistem transaksi pemerintah daerah serta memiliki basis nasabah dari lingkungan aparatur sipil negara.
Kekuatan pasar tersebut menjadi salah satu faktor yang menopang posisi bisnis Bank BJB. Namun, pertumbuhan kredit tetap perlu diikuti dengan pengendalian risiko agar peningkatan penyaluran tidak diikuti pemburukan kualitas aset.
Baca Juga: KDM Menuju Pilpres 2029: Menunggu Restu Prabowo atau Maju Bersama Gerindra?
Artikel Terkait
Penuhi Tradisi THR, BI dan Perbankan Siapkan Jadwal dan Lokasi Penukaran Uang Baru Untuk Ramadhan dan Lebaran
Indosat Ooredoo Hutchison Gelar Banking AI Day, Dorong Transformasi Digital Perbankan Indonesia dengan AI Berdaulat
3 Kontroversi Mr Bert Terkait Tuduhan Sistem Keamanan Lemah di Perbankan, Tepisannya dari Pakar IT hingga Menkomdigi
Buka Lembaran Lama Bailout BCA! Pengamat: Bukanlah Ancaman Bagi Stabilitas Perbankan
IHSG Tergelincir ke 7.894 Usai BI Turunkan Suku Bunga, Saham Perbankan dan DSSA Ikut Jadi Sorotan
OJK Turunkan Target Kredit 2025 Jadi 8,99 Persen, Perbankan Diminta Realistis Atur Ekspansi di Tengah Ekonomi Melambat
Perkuat Sektor Perbankan, Tiga Bank Milik Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya Bakal Lakukan Merger
Pemotongan TPP ASN Picu Kekhawatiran, NPL Perbankan Priangan Timur Capai 4,75 Persen
OJK Tasikmalaya Catat Aset Perbankan Priangan Timur Tumbuh 4,54 Persen Jadi Rp90,94 Triliun
Harris Turino Dorong RUU Perampasan Aset Tak Hanya Sasar Korupsi, Kejahatan Perbankan dan Pajak Ikut Dibidik