daerah

Krisis Air Bersih Pascabanjir, Warga Tamiang Hulu Alami Penyakit Kulit Pascabanjir akibat Pakai Air Sisa Banjir

Minggu, 28 Desember 2025 | 07:11 WIB
Warga Tamiang Hulu hadapi Krisis Air Bersih, Penyakit Kulit Pascabanjir mulai dikeluhkan usai banjir. (Instagram/a.muhammadkurniawan.s)

 

Mediapriangan.com - Krisis Air Bersih masih menjadi persoalan serius yang dihadapi warga terdampak banjir di sejumlah wilayah Sumatera. Selain kebutuhan logistik makanan, akses terhadap air bersih menjadi hal mendesak, terutama bagi Warga Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang.

Hingga kini, sebagian Warga Tamiang Hulu terpaksa memanfaatkan air sisa banjir untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut membuat ancaman Penyakit Kulit Pascabanjir mulai dirasakan, seiring aktivitas mandi dan mencuci yang masih menggunakan air keruh bercampur lumpur.

Keluhan terkait Penyakit Kulit Pascabanjir disampaikan salah satu warga melalui unggahan di media sosial. Ia menyebut penggunaan air yang diduga tercemar menjadi penyebab gangguan kesehatan yang kini dialami keluarganya di tengah Krisis Air Bersih.

Baca Juga: Bantuan Logistik TNI ke Gayo Lues Berbuah Haru, Warga Gayo Lues Balas dengan Hasil Panen Melimpah

“(Kenapa gatal) Biasanya kan mandi air bersih pakai air PAM itu kan, sekarang pakai air apa? Air sumur. Air sumur kan juga dari air banjir ini,” ujar salah satu warga dalam unggahan akun Instagram @a.muhammadkurniawan.s, dikutip pada Sabtu, 27 Desember 2025.

“Entah airnya kena apa, datang dari mana, mungkin bakteri nempel ke kulit,” lanjutnya.

Dampak Penyakit Kulit Pascabanjir tidak hanya dirasakan orang dewasa. Menurut penuturan warga tersebut, anaknya juga mengalami keluhan serupa akibat kondisi air yang digunakan oleh Warga Tamiang Hulu selama Krisis Air Bersih belum teratasi.

Baca Juga: Sebulan Banjir Aceh Tamiang Berlalu, Warga Bertahan di Atap Ungkap Cerita Korban Banjir yang Tak Terlupakan

“Itu korengan anak saya, gatal-gatal. Termasuk saya kena gatal-gatal ini,” lanjutnya.

Dalam video yang sama, terlihat Warga Tamiang Hulu mencuci peralatan makan menggunakan air sisa banjir berwarna coklat keruh. Situasi darurat memaksa warga bertahan dengan kondisi tersebut meski berisiko memperparah Penyakit Kulit Pascabanjir dan gangguan kesehatan lainnya.

Kondisi Krisis Air Bersih ini dinilai berbahaya jika berlangsung lama. Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2018-2021, dokter Daeng Mohammad Faqih, menegaskan bahwa air bersih merupakan kebutuhan utama dalam situasi bencana.

Baca Juga: Arimbi Syifana Resmi Masuk Daftar Pemain Jakarta Livin Mandiri di Proliga 2026, Usia 13 Tahun Jadi Sorotan

“Ketersediaan air dan makanan ini penting banget. Kalau tidak tersedia, maka mungkin timbul komplikasi penyakit yang lain. Itu yang dikhawatirkan,” ujarnya dikutip dari podcast di kanal YouTube Forum Keadilan TV pada Sabtu, 27 Desember 2025.

Halaman:

Tags

Terkini