Mediapriangan.com - Sudah lebih dari tiga pekan pascabanjir besar yang melanda sejumlah wilayah Sumatera, kondisi Desa Sekumur di Aceh Tamiang hingga kini masih memprihatinkan. Banjir yang terjadi pada November 2025 membuat Desa Sekumur terisolasi akibat jembatan putus dan akses darat tidak lagi bisa dilalui warga.
Wilayah Aceh Tamiang menjadi salah satu daerah terdampak paling parah dalam peristiwa banjir tersebut. Di Desa Sekumur, banjir tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga memutus jalur penghubung utama yang selama ini menjadi akses masyarakat menuju pusat kabupaten Aceh Tamiang.
Melalui unggahan media sosial, Marlina Usman, istri Gubernur Aceh Muzakir Manaf, menggambarkan langsung kondisi Desa Sekumur yang masih terisolasi. Ia menyebut dampak banjir di Desa Sekumur menyebabkan warga kehilangan seluruh harta benda dan harus bertahan dengan fasilitas seadanya.
“Semuanya hancur luluh lantak, tak tersisa apapun yang bisa mereka gunakan untuk membangun lagi rumah mereka,” tulis Marlina Usman dalam unggahannya.
Putusnya jembatan akibat banjir membuat Desa Sekumur hanya bisa dijangkau menggunakan perahu nelayan. Kondisi ini memperparah distribusi bantuan ke wilayah Aceh Tamiang yang terdampak banjir, khususnya bagi warga Desa Sekumur.
“Akses menuju kampung Sekumur ini harus menggunakan perahu karena jembatan yang biasa mereka gunakan sudah terbawa arus. Dari kota Tamiang, kami menempuh perjalanan 2 jam untuk tiba di sini,” ungkap Marlina Usman.
Baca Juga: Arie Untung Jadi Saksi Tak Terduga, Pasangan di Aceh Tamiang Gelar Pernikahan di Pengungsian Bencana
Selain kehilangan rumah akibat banjir, warga Desa Sekumur kini bergantung pada tenda pengungsian yang dibangun secara swadaya. Keterbatasan tenda pengungsian membuat sebagian warga hanya menggunakan terpal sebagai tempat tinggal sementara di wilayah Aceh Tamiang tersebut.
“Dari sungai, jarak tenda yang didirikan oleh swadaya masyarakat sekitar 800 meter dengan jalan yang masih berlumpur. Kini mereka sangat membutuhkan tenda yang layak, penampungan dan penyaringan air bersih, genset dan lampu penerangan serta perlengkapan sarana ibadah,” jelasnya.
“Semua rumah di sini lenyap, hanya menggunakan terpal, warga di sini bahu-membahu mendirikan tempat tinggal sementara,” tambah Marlina Usman.
Data sementara menyebutkan, banjir di Desa Sekumur berdampak pada sekitar 260 kepala keluarga atau kurang lebih 1.200 jiwa. Meski bantuan logistik di Aceh Tamiang dinilai cukup aman, kebutuhan lain masih sangat mendesak.
Artikel Terkait
Sorotan Gubernur Mualem untuk Penanganan Banjir Aceh Tamiang, Kritik BNPB Makin Menguat
Pengungsi Banjir Aceh Tamiang Akui Uang Tidak Berharga, Makanan dan Lilin Jadi Kebutuhan Paling Mendesak
Kontur Jalan di Aceh Tamiang Masih Seperti Agar-agar, Warga Khawatir Usai Banjir Bandang 2025
Kisah Pengungsi Bencana Banjir Bandang Aceh Tamiang, Seorang Ibu Mengaku Tak Butuh Uang Usai Kehilangan Rumah
Relawan Bantu Video Call Ibu di Aceh Tamiang dengan Anak di Yaman, Sinyal Masih Sulit Pascabanjir Aceh
Pengungsi Aceh Tamiang Rasakan Kebahagiaan Sederhana, Sebungkus Nasi Padang di Tengah Banjir Aceh Tamiang