Di sisi lain, Farid menegaskan bahwa adanya mahasiswa yang mengalami luka-luka juga patut menjadi bahan evaluasi bersama, khususnya terkait penerapan standar operasional prosedur (SOP) pengamanan di lapangan, demi mencegah kejadian serupa terulang.
Ia pun mengajak insan media untuk tetap menempatkan substansi gerakan mahasiswa sebagai fokus utama pemberitaan.
“Bagi kami, media dan jurnalis adalah mitra strategis sekaligus penyangga demokrasi. Isu utama yang perlu disampaikan kepada publik adalah evaluasi kinerja Wali Kota dan persoalan pembangunan kota, bukan semata-mata insiden fisik yang bersifat insidental,” tuturnya.
Farid mengingatkan agar narasi-narasi yang bersifat periferal tidak menutupi poin-poin kritis yang disuarakan mahasiswa PMII terkait berbagai catatan evaluatif terhadap pembangunan dan tata kelola Kota Tasikmalaya.
Sebagai alumni, ia menegaskan bahwa mahasiswa merupakan aset kritis daerah yang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan demokrasi.
“Evaluasi adalah hal yang wajar dan menyehatkan dalam sistem demokrasi. Kepemimpinan yang kuat dibangun melalui dialog dan diskusi, karena memimpin sebuah kota membutuhkan kehadiran dan kebijaksanaan, bukan sekadar menghindar dari kritik,” pungkasnya. ***