Jika ditemukan berasal dari luar daerah, Dinas Sosial biasanya akan memulangkan pengemis musiman tersebut ke daerah asalnya.
"Perkara nanti mereka datang lagi kita memang tidak bisa mencegahnya yang namanya orang mencari nafkah," ujarnya.
Imas menambahkan, momentum Bulan Ramadan yang identik dengan bulan sedekah sering dimanfaatkan sebagian orang untuk mengemis di Kota Tasikmalaya.
Baca Juga: Masjid Agung Kota Tasikmalaya Berdiri Sejak 1886, Ini Jejak Sejarah dan Filosofi Arsitekturnya
"Makanya dengan peningkatan program Tasik Bageur dan program Bakul Tasik, setidaknya paling tidak salah satu upaya bahwa mereka kita bantu agar tidak harus kembali panas panasan di jalan untuk mengemis," ujarnya.
Dari hasil pendataan yang dilakukan Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, sebagian pengemis musiman mengaku turun ke jalan karena alasan ekonomi. Namun ada pula yang disebut telah terbiasa menjalani aktivitas tersebut.
"Ada juga yang mengaku karena kebutuhan ekonomi tapi alasan tersebut biasanya hanya mengada-ngada karena banyak diantara mereka yang sebenarnya hidup layak," ujar Imas.
Salah seorang pengemis musiman yang ditemui di halaman Masjid Agung Kota Tasikmalaya mengaku penghasilan selama Bulan Ramadan bisa mencapai jutaan rupiah.
Ia menyebut pendapatan dari aktivitas mengemis dapat mencapai lebih dari Rp5 juta selama satu bulan, jika dihitung dari penghasilan harian.
"Ya gimana lagi pak, da saya mah gak punya pekerjaan, suami juga gak punya, nyari kerja susah, terpaksa saya ngemis disini. Apalagi ya kalau Bulan Ramadan yang ngasih biasanya memang lebih banyak," ujar salah seorang pengemis.***