Baca Juga: Lonjakan Mudik Lebaran 2026 di Jawa Barat, Puncak Arus Mudik Diprediksi H-3 Idulfitri
Menurut dia, sulitnya bahan baku berupa bambu dikarenakan banyak perbukitan di Kota Tasikmalaya yang biasanya menjadi lumbung bambu habis dijadikan tambang pasir.
Kalau dulu kata dia, ulu untuk mendapatkan bambu tinggal ke gunung beli dari pemiliknya langsung sehingga harganya murah.
"Sekarang mah bukitnya sudah tidak ada karena habis ditambang sehingga bambu sulit didapat," Katanya.
Saat ini kata Mariana, untuk mendapatkan bambu ia terpaksa beli dari matrial dengan harga jauh lebih mahal.
Baca Juga: Jelang Lebaran 1447 H, Pertamina Patra Niaga Pastikan Stok BBM dan LPG Aman di Priangan Timur
"Kalau dari gunung langsung paling Rp 7.000 per leunjeur (batang). Kalau sekarang beli dari matrial harga satu batangnya bisa mencapai Rp 25.000," katanya.
Dengan kondisi seperti itu lanjut Mariana, banyak pengrajin anyaman bambu di daerahnya yang berhenti jadi pengrajin anyaman bambu. Warga banyak yang beralih profesi menjadi pedagang atau bekerja di tambang pasir.
"Kalau dulu mah hampir 90 persen masyarakat disini bermata pencaharian sebagai pengrajin anyaman bambu, makanya daerah Situ Beet disebut sebagai sentra anyaman bambu, kalau sekarang warga yang masih bertahan bisa dihitung jari," ujar Mariana.***