SUMUT, Mediapriangan.com - Perhatian publik kembali tertuju pada kasus amsal sitepu, seorang videografer sumut yang kini tengah menjalani proses hukum di wilayah Sumatera Utara. Sorotan ini semakin tajam setelah figur publik bimoky angkat suara melalui media sosialnya.
Kasus amsal sitepu menjadi pembahasan luas setelah muncul dugaan penggelembungan anggaran dalam proyek video profil desa di Kabupaten Karo.
Dalam proyek tersebut, nilai pekerjaan yang diajukan oleh pihak terkait dinilai tidak sesuai dengan hasil audit yang dilakukan pihak berwenang.
Baca Juga: Videografer Sumut Tuntut Bebas, Kasus Dugaan Mark Up Proyek Profil Desa Karo Disorot Usai Pledoi
Dari perspektif videografer sumut, pekerjaan kreatif seperti ini seharusnya memiliki nilai yang jelas, terutama pada aspek ide, produksi, hingga pascaproduksi.
Namun, dalam kasus amsal sitepu, sejumlah komponen pekerjaan justru dinilai bernilai nol oleh pihak berwenang, yang kemudian menjadi dasar dalam proses hukum.
Tokoh kreatif bimoky kemudian menyampaikan pandangannya secara terbuka. Ia menilai bahwa dunia kreatif tidak bisa dipandang sebelah mata, apalagi dianggap tidak memiliki nilai ekonomi.
"Oke jadi ada kasus yang membuat saya harus speak up," kata Bimo Kusumo.
Pernyataan tersebut menyoroti bagaimana kasus amsal sitepu menjadi perhatian serius, bukan hanya di kalangan kreator, tetapi juga masyarakat luas yang mulai mempertanyakan logika penilaian dalam proyek kreatif tersebut.
Dalam penjelasannya, bimoky menilai bahwa publik perlu memahami struktur kerja dalam industri kreatif. Ia menekankan bahwa proses produksi video melibatkan tahapan yang kompleks dan tidak bisa dianggap sebagai pekerjaan tanpa biaya.
"Yang lebih mengkhawatirkan, bukan hanya kesimpulannya, tapi proses hukumnya," ungkap bimoky.
Baca Juga: Keterbatasan Fiskal Tak Hambat Pembangunan, Musrenbang RKPD Ciamis 2027 Tekankan Gotong Royong