daerah

Ngarumat Hulu Cai, Masyarakat Menyuarakan Kegelisahan Sekaligus Kritik Terbuka Terhadap Kerusakan Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 18:46 WIB
Prosesi kegiatan Ngarumat Hulu Cai bertempat di Gedong Cai Cibunigeulis Gunung Kokosan Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya, Rabu (22/4/2026).  (Dok. AMS)

TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2026, Pemerintah Kota Tasikmalaya kembali menggelar kegiatan Ngarumat Hulu Cai bertempat di Gedong Cai Cibunigeulis Gunung Kokosan Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya, Rabu (22/4/2026)

Acara dimulai dengan kirab budaya di seputar Kota Tasikmalaya, pentas musik di area Situ Gede Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya, dan kirab ke lokasi Gedong Cai.

Sedangkan acara di Gedong Cai diisi dengan prosesi adat Ngarumat Hulu Cai, pentas tari, sastra seni dari kelompok seni (Semi Sunda Binangkit).

Baca Juga: Ngarumat Hulu Cai Jadi Sorotan Hari Bumi 2026, Pongkir Wijaya: Krisis Lingkungan di Tasikmalaya Sudah Mendesak

Ketua Panitia kegiatan, sekaligus Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya, Tatang Pahat mengatakan, peringatan Hari Bumi 2026 di Kota Tasikmalaya tidak lagi sekadar seremoni tahunan.

Melalui kegiatan Ngarumat Hulu Cai masyarakat menyuarakan kegelisahan sekaligus kritik terbuka terhadap kondisi lingkungan yang kian mengkhawatirkan, khususnya di wilayah hulu sebagai sumber kehidupan.

Jelas Tatang, fakta di lapangan menunjukkan adanya penurunan kualitas lingkungan yang nyata seperti melemahnya daya serap tanah, berkurangnya tutupan vegetasi, serta semakin menurunnya debit mata air.

Prosesi kegiatan Ngarumat Hulu Cai bertempat di Gedong Cai Cibunigeulis Gunung Kokosan Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya, Rabu (22/4/2026). (Dok. AMS)

"Kondisi ini tentu saja menjadi alarm serius yang tidak bisa diabaikan, karena jika hulu rusak, maka krisis di hilir hanya tinggal menunggu waktu," Katanya.

Padahal lanjut dia, leluhur Sunda telah lama mengingatkan, "Gunung kudu awian, lengkob kudu balongan, lebak kudu sawahan, Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak," ujarnya.

Namun hari ini, peringatan tersebut seolah kalah oleh praktik pembangunan yang belum sepenuhnya berpihak pada keberlanjutan lingkungan.

Baca Juga: Kekuatan Seni dan Budaya Penjaga Tata Nilai yang Mulai Terkikis, Ketua DKKT Tatang Pahat Bicara Lantang

Krisis Lingkungan dan Tanggung Jawab Pemerintah

Tatang Pahat menilai bahwa kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan tata kelola alih fungsi lahan yang tidak terkendali, lemahnya pengawasan kawasan resapan, serta belum optimalnya keberpihakan kebijakan dan anggaran terhadap lingkungan menunjukkan perlunya evaluasi serius dari Pemerintah Kota Tasikmalaya dan DPRD.

Halaman:

Tags

Terkini