TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Inflasi Kota Tasikmalaya pada Juni 2026 tetap berada pada level yang terkendali. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tasikmalaya, inflasi tercatat sebesar 0,03 persen, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,04 persen.
Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan inflasi Provinsi Jawa Barat yang sebesar 0,28 persen maupun inflasi nasional yang mencapai 0,44 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Adhy Ramawan, mengatakan capaian tersebut menunjukkan stabilitas harga di Kota Tasikmalaya masih terjaga di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Baca Juga: Pelatihan HACCP di Kota Tasikmalaya, Diky Chandra: Dapur yang Melanggar Ketentuan Bisa Diberhentikan
"Ke depan, pengendalian inflasi perlu diperkuat melalui implementasi GPIPS berbasis 4K, yaitu menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, dan memperkuat komunikasi efektif kepada masyarakat," ujar Adhy kepada wartawan, Kamis, 9 Juli 2026.
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Kota Tasikmalaya tercatat sebesar 2,72 persen, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,82 persen. Angka tersebut juga berada di bawah inflasi Jawa Barat sebesar 3,08 persen dan nasional sebesar 3,34 persen.
Sementara itu, inflasi tahun kalender hingga Juni 2026 tercatat sebesar 1,25 persen.
"Perkembangan ini menunjukkan bahwa inflasi Kota Tasikmalaya masih terjaga, meskipun sejumlah risiko tekanan harga tetap perlu diantisipasi," katanya.
Baca Juga: Menagih Oleh-Oleh APEKSI 2026 untuk Kota Tasikmalaya
Adhy menjelaskan, komoditas utama penyumbang inflasi Kota Tasikmalaya pada Juni 2026 antara lain bensin dengan andil 0,039 persen, daun bawang 0,023 persen, bawang merah 0,020 persen, wortel 0,020 persen, dan sigaret kretek tangan sebesar 0,016 persen.
"Kenaikan harga bensin dipengaruhi oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi sejalan dengan dinamika harga energi global," jelas Adhy.
Selain itu, kenaikan harga daun bawang, bawang merah, dan wortel dipengaruhi pasokan yang belum optimal, gangguan cuaca, serta pola produksi di daerah pemasok. Sementara kenaikan harga sigaret kretek tangan dipicu penyesuaian harga jual eceran secara bertahap.