Penantian terhadap hujan menjadi bagian dari perjalanan panjang para relawan. Selama 67 hari, mereka berpindah dari satu titik penanganan karhutla ke lokasi lainnya untuk membantu pemadaman dan pendinginan.
Asrul menggambarkan perubahan suasana yang dirasakan para relawan ketika air hujan mulai turun.
"Saya menyaksikan langsung kebahagiaan itu.
Wajah-wajah 67 hari terbiasa dengan panas dan asap, hari ini dibasahi hujan."
Bagi relawan, hujan juga memberikan kesempatan untuk menghentikan aktivitas lebih awal setelah berhari-hari berada di lapangan.
"Untuk pertama kalinya kami bisa pulang lebih awal, bukan karena menyerah, tapi karena Allah memberikan jeda untuk kami beristirahat," tambahnya.
Unggahan tersebut kemudian memperlihatkan sisi lain perjuangan relawan karhutla yang selama ini berlangsung di tengah kondisi lapangan yang berat.
Perjuangan di Kubu Raya
Salah satu lokasi yang sebelumnya menjadi tempat Asrul bersama relawan melakukan penanganan karhutla berada di sekitar Bandar Udara Supadio, Desa Limbung, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Para relawan bergerak ke lokasi setelah menerima laporan dari masyarakat mengenai kebakaran. Penanganan tidak hanya berkaitan dengan kobaran api, tetapi juga kondisi lingkungan dan satwa yang terdampak.
Dalam salah satu kejadian yang diceritakan Asrul, relawan menemukan seekor labi-labi yang kesulitan bertahan di sekitar area yang airnya mulai disedot.
"Di muara yang airnya mulai disedot, ditemukan labi-labi yang kesulitan bertahan. Relawan kemudian memindahkannya ke tempat yang lebih aman," tutur Asrul.