"Jadi mereka itu memang mengalami reaksi alergi, tetapi kita juga tidak bisa menjustifikasi apa penyebab reaksi alerginya karena tidak dilakukan pemeriksaan saat itu," ungkapnya.
"Karena kan mungkin saja sudah ada beberapa makanan yang dimakan termasuk makan MBG itu, sehingga kita tidak bisa memastikan sumber alerginya sehingga menimbulkan gejala alergi pada korban yang dimaksud," sambung Nilal.
Menu MBG tersebut diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Takalar Mangarabombang Topejawa. Setelah kejadian itu, Dinas Kesehatan Takalar meminta pengelola SPPG lebih cermat dalam memilih bahan pangan yang akan digunakan.
Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah pencegahan agar bahan yang masuk ke dapur pengolahan makanan benar-benar memenuhi persyaratan keamanan pangan.
"Saya mengimbau ke seluruh SPPG yang ada di Kabupaten Takalar agar berhati-hati di dalam mencari bahan atau sumber pangan yang akan diolah untuk kebutuhan dapur MBG," jelas Nilal.
Selain memperketat pemilihan bahan, Nilal menyarankan pemeriksaan laboratorium dilakukan terhadap bahan pangan tertentu sebelum digunakan. Langkah tersebut juga dapat dilakukan sebelum pemasok bahan ditetapkan.
"Untuk makanan-makanan tertentu itu dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu sebelum menentukan supliernya supaya kita aman," terang Nilal.
Baca Juga: Kasus Keracunan MBG Berulang, BPOM Ungkap Makanan Lebih dari 4 Jam Bisa Basi Sebelum Diterima Siswa
Menurutnya, pengawasan tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko kejadian serupa pada penerima manfaat program. Pemeriksaan bahan pangan menjadi salah satu upaya untuk menjaga keamanan makanan yang disalurkan melalui SPPG.
"Dan juga menjaga tidak ada lagi kasus-kasus keracunan di sekolah-sekolah atau orang-orang yang menerima manfaat MBG ini," tandasnya.
Kasus di Takalar ini bermula ketika makanan MBG yang akan diberikan kepada siswa lebih dulu dicicipi oleh guru sebagai bagian dari pengecekan. Setelah muncul keluhan pada sejumlah guru, makanan tersebut tidak jadi dibagikan.
Dinkes Takalar kemudian mengambil sampel untuk diperiksa. Hasilnya, tahu dalam menu MBG dinyatakan mengandung boraks, sedangkan pemeriksaan formalin menunjukkan hasil negatif.***