Mediapriangan.com - Isu panas kembali mencuat di kawasan perbatasan Thailand dan Kamboja. Perhatian warganet tertuju pada konflik diplomatik terbaru yang dipicu oleh sengketa Candi Ta Muen Thom, sebuah situs bersejarah peninggalan era kejayaan Sriwijaya dan Khmer.
Ketegangan meningkat usai dugaan serangan yang dilakukan oleh tentara dan warga sipil Thailand terhadap seorang prajurit Kamboja di sekitar kompleks candi tersebut pada Senin, 14 Juli 2025.
Candi Ta Muen Thom, yang berdiri megah di pegunungan Dangrek, selama ini menjadi simbol penting bagi identitas budaya Kamboja. Tak heran bila pemerintah Phnom Penh mengecam insiden itu dengan keras dan menyebutnya sebagai ancaman terhadap kedaulatan dan warisan leluhur mereka.
"Ini adalah pelanggaran terhadap hukum internasional dan kebenaran sejarah,” demikian pernyataan resmi pemerintah Kamboja, dikutip dari New York Times, Jumat, 25 Juli 2025.
Kamboja menegaskan bahwa klaim mereka atas kawasan candi tersebut memiliki dasar kuat, mengacu pada Konvensi Prancis-Siam 1907.
“Candi Ta Muen Thom merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya bangsa kami, dan klaim kami atas wilayah itu telah diakui dalam Konvensi Prancis-Siam 1907," lanjut pernyataan itu.
Jejak Sejarah Candi Ta Muen Thom
Candi Ta Muen Thom bukanlah sekadar bangunan kuno. Kuil ini menyimpan nilai historis tinggi karena dibangun pada masa pemerintahan Raja Udayadityavarman II, sekitar abad ke-11 hingga ke-12.
Berfungsi sebagai tempat pemujaan Hindu, candi ini adalah yang terbesar di antara tiga kompleks candi yang berdiri di jalur pegunungan Dangrek, tepatnya di Ban Nong Khanna.
Dalam berbagai catatan sejarah, candi ini diyakini sebagai bagian dari wilayah kekuasaan Kekaisaran Khmer, yang masa kejayaannya beriringan dengan kerajaan maritim Sriwijaya.
Statusnya sebagai bagian dari Kamboja juga tercantum dalam daftar resmi milik Kementerian Kebudayaan dan Seni Rupa Kamboja.