“Saat itulah saya merasakan benturan di kaki dan pinggul saya,” kata Cesar.
Asosiasi Jurnalis Nasional Peru (ANP) mencatat sedikitnya enam jurnalis terluka saat meliput aksi di Lima.
Filipina: Massa Membludak di Manila
Gelombang serupa terlihat di Filipina. Ribuan Gen Z memadati Taman Rizal di Manila dan Kuil EDSA di Kota Quezon pada hari yang sama. Awalnya hanya 4.000 orang yang hadir, namun jumlahnya melonjak menjadi 15.000 dalam waktu satu jam berkat seruan digital.
"Ketika massa mencoba menuju Istana Malacanang, polisi menghadang dengan gas air mata dan menangkap puluhan remaja," demikian laporan The Manila Times.
Orasi massa juga terdengar lantang
“Korupsi membuat rakyat turun ke jalan, menyalurkan kemarahan mereka, agar pemerintah benar-benar menjalankan tugasnya,” tegas aktivis Teddy Casino.
Tokoh muda Sarah Elago pun mengecam dinasti politik yang masih bercokol.
“Lima puluh tiga tahun berlalu, namun pencuri dan koruptor tetap berkuasa. Apakah Anda akan membiarkan ini?” seru Sarah disambut teriakan “Tidak!” dari massa.
Jejak Aksi di Nepal dan Prancis
Sebelumnya, Nepal dan Prancis juga sempat diguncang gelombang protes serupa. Di Nepal, pemblokiran media sosial justru memicu amarah publik hingga menjatuhkan perdana menteri. Di Prancis, Gen Z menjadi garda depan aksi menuntut reformasi politik.
Fenomena ini membuktikan media sosial bukan hanya ruang hiburan, tetapi juga alat mobilisasi yang mampu menggerakkan ribuan orang.
Namun, setiap seruan yang berakhir di jalanan tetap menyimpan risiko bentrokan dan korban jiwa. Karena itu, dibutuhkan kesadaran bersama agar gerakan ini tetap damai dan terarah.***