Pada usia 17 tahun, tepatnya pada tahun 1904, mama Cilenga remaja berangkat ke Makkah Al-Mukarromah. Dengan menempuh perjalanan selama tiga bulan menggunakan kapal laut bermesin uap, ia berangkat dari pelabuhan Batavia (Jakarta).
Baca Juga: Gempa Bumi Terkini Guncang Bali Lalu Padang, Waspada Gempa Susulan
Selain untuk menunaikan rukun Islam kelima, mama Cilenga remaja ini menimba ilmu agama Islam dengan bimbingan langsung dari para masyaikh warga Indonesia yang mukim di Makkah.
Di antaranya, Syekh Abdul Salam, Syekh Mukhtar dan ulama besar nusantara sekaligus imam Masjidil Harom Makkah Al-Mukarromah, yakni Syekh Mahfudz At-Tarmasi yang memiliki sanad keilmuan kepada Nabi Muhammad, saw.
Syekh Mahfudz At-Tarmasi ini juga merupakan guru langsung dari KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Hasbullah, sebelum kemudian KH Hasyim As'ari ini mendirikan NU.
Setelah hampir 13 tahun mendalami ilmu agama di Makkah, pada tahun 1916 akhir ia kembali ke Cilenga, kampung halamannya.
Pada tahun 1917, mama Cilenga mulai merintis pendidikan kepesantrenan di tengah kehidupan masyrakat saat itu yang masih kental dengan tradisi penuh khurafat dan kemusyrikan.
Setahun kemudian, mama Cilenga meresmikan pesantren Cilenga. Dan dengan dukungan masyarakat beliau pun membuka lebar kedatangan para santri dari daerah lain termasuk KH Zainal Mustafa Sukamanah dan KH Ruhiat Cipasung.
Baca Juga: Viral! Video Mahasiswa Diusir Dosen Dari Kampus Universitas Hasanudin, Ini Alasannya
Cikal Bakal NU Di Tasimalaya
Selang satu tahun pendirian NU di Surabaya dideklarasikan, tepatnya pada 31 Januari 1926, NU Cabang Tasikmalaya mulai terbentuk.
Setelah berkirim surat kepada KH Hasyim As'ari pimpinan Pesantren Tebu Ireng Jombang, KH Muhammad Syabandi kemudian membentuk kepengurusan NU cabang Tasikmalaya.
Diawali dengan pembentukan NU kring Pesantren Cilenga, kemudian berdirilah NU kring Sukamanah dan kring Cipasung. Ketiga kring ini merupakan kring istimewa, karena berinduk langsung ke pengurus besar NU di Surabaya.
Baca Juga: Non Biner ramai di dunia maya. Lantas apa yang dimaksud dengan identitas gender netral ini
Artikel Terkait
Nama KH Muhammad Syabandi, Diabadikan Pada Jalan Kabupaten Tasikmalaya
KH Muhammad Syabandi Kini Menjadi Nama Jalan, Lakpesdam PCNU: Maqbarah Beliau Harusnya Ditata!