PM China Tiba di RI, Rosan Beberkan Peluang Proyek Baru, Gerbong Kereta, Baterai Listrik, hingga Industri Kimia

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Senin, 26 Mei 2025 | 10:07 WIB
Perdana Menteri China, Li Qiang datang ke Indonesia.   (Instagram/presidenrepublikindonesia)
Perdana Menteri China, Li Qiang datang ke Indonesia. (Instagram/presidenrepublikindonesia)

 

 

Mediapriangan.com – Lawatan Perdana Menteri China, Li Qiang, ke Indonesia pada Minggu, 25 Mei 2025, tak sekadar menjadi momen diplomatik, tetapi juga membawa angin segar bagi kerja sama investasi antarnegara.

Menurut Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, kehadiran Li Qiang menandai langkah konkret dalam mempercepat realisasi investasi besar dari China yang telah disepakati sebelumnya. Nilai investasinya mencapai 10 miliar dolar AS dan kini mulai masuk tahap implementasi.

“Investasi tersebut telah berjalan di beberapa sektor strategis, dan akan terus berkembang,” ujar Rosan saat menyambut kedatangan PM Li Qiang di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Baca Juga: Trump Ultimatum Apple, Produksi iPhone Harus di AS, Jika Tidak Siap-Siap Kena Tarif Impor 25 Persen!

Namun, Rosan mengungkap bahwa kerja sama tidak hanya berhenti di proyek-proyek yang sudah disepakati. Kunjungan ini juga membuka ruang baru untuk penjajakan di sejumlah bidang penting seperti transportasi, pengolahan mineral, pengembangan kawasan industri, hingga sektor kimia.

“Beberapa potensi baru sedang kami jajaki bersama, seperti produksi gerbong kereta api, pengembangan baterai kendaraan listrik, serta industri kimia. Ini sifatnya lintas sektor dan kolaboratif,” tuturnya.

Proyek-proyek tersebut, lanjut Rosan, melibatkan kerja sama antara BUMN, swasta nasional, dan mitra asing, sebagai wujud sinergi memperkuat sektor industri di dalam negeri.

Baca Juga: Kadin China Siap Bantu Bangun 1.000 Dapur MBG di Indonesia, Prototipe Ditarget Rampung Sebelum 17 Agustus 2025!

Rosan juga menegaskan komitmen Indonesia untuk memperluas kerja sama ekonomi dengan China, tanpa mengesampingkan hubungan baik dengan negara-negara lain.

“Fokus kami adalah membangun kolaborasi yang saling menguntungkan, termasuk dengan negara seperti Amerika Serikat. Tapi saat ini, kita perkuat dulu yang sudah berjalan,” katanya menutup pernyataan.

Langkah ini diharapkan dapat mempercepat hilirisasi industri dalam negeri dan menambah nilai ekspor Indonesia melalui kerja sama yang lebih strategis dan berkelanjutan.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X