Tantangan Transisi
PLN sendiri menyebut transisi energi harus dilakukan secara bertahap dan menempatkan gas sebagai “jembatan” untuk menjaga pasokan listrik tetap stabil. Meski tetap berkomitmen pada 76 persen EBT, PLN juga memastikan proyek pembangkit fosil yang sudah masuk dalam pipeline akan tetap diselesaikan.
Para pengamat menilai strategi “back loaded” atau menumpuk proyek di akhir dekade sarat risiko. Jika terlalu banyak proyek dijalankan bersamaan, bisa terjadi hambatan pembiayaan, izin, hingga rantai pasok.
Pusat Penelitian DPR pun mengingatkan, semakin lama transisi energi ditunda, semakin berat beban penyelesaian di akhir periode.
Pertanyaan Publik Masih Menggantung
Di balik angka-angka, transisi energi erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat, kualitas udara, dan daya saing ekonomi nasional.
“Semakin lama kita menunggu, semakin mahal biaya yang harus dibayar,” ujar peneliti CREA.
Meski PLN menyebut RUPTL kali ini paling hijau, publik masih menanti bukti nyata. Pertanyaan pun muncul: apakah janji hijau itu akan terwujud sesuai jadwal, atau hanya berhenti sebagai rencana di atas kertas?***
Artikel Terkait
1000 Cahaya Muhammadiyah dan LPCR PM Selenggarakan ToT Audit Energi, Dorong Dakwah Ramah Lingkungan di Yogyakarta
Prabowo Gelontorkan Rp1.376 Triliun untuk Bansos, MBG, hingga Subsidi Energi di Tahun 2026
Kuota Gas HGBT Dibatasi, Industri Tertekan dan PHK Mulai Terjadi, Kemenperin Ungkap Kejanggalan Pasokan Energi
Indonesia-Bangladesh Sepakat Perkuat Kerja Sama Energi, Dari Pasokan Batu Bara Stabil Hingga Proyek Terbarukan
Lampu LED Mobil dan Motor Jadi Tren, Lebih Hemat Energi dan Awet tapi Wajib Perhatikan Aturan Pemasangan
Menkeu Purbaya Ungkap Strategi Kurangi Subsidi Listrik, PLTS dan Energi Terbarukan Jadi Solusi Masa Depan