RUPTL 2025-2034 PLN Disebut Paling Hijau, Namun Mayoritas Energi Terbarukan Baru Masuk Sistem Setelah 2030

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Rabu, 24 September 2025 | 10:22 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Konferensi Pers RUPTL 2025-2034 di Jakarta, Senin 26 Mei 2025   (Foto: PLN)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Konferensi Pers RUPTL 2025-2034 di Jakarta, Senin 26 Mei 2025 (Foto: PLN)

Tantangan Transisi

PLN sendiri menyebut transisi energi harus dilakukan secara bertahap dan menempatkan gas sebagai “jembatan” untuk menjaga pasokan listrik tetap stabil. Meski tetap berkomitmen pada 76 persen EBT, PLN juga memastikan proyek pembangkit fosil yang sudah masuk dalam pipeline akan tetap diselesaikan.

Para pengamat menilai strategi “back loaded” atau menumpuk proyek di akhir dekade sarat risiko. Jika terlalu banyak proyek dijalankan bersamaan, bisa terjadi hambatan pembiayaan, izin, hingga rantai pasok.

Baca Juga: Bahlil Lahadalia Janji Respons Terukur Tuntutan 17+8, Pastikan Pemerintah dan Parpol Tak Tinggal Diam

Pusat Penelitian DPR pun mengingatkan, semakin lama transisi energi ditunda, semakin berat beban penyelesaian di akhir periode.

Pertanyaan Publik Masih Menggantung

Di balik angka-angka, transisi energi erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat, kualitas udara, dan daya saing ekonomi nasional.
“Semakin lama kita menunggu, semakin mahal biaya yang harus dibayar,” ujar peneliti CREA.

Meski PLN menyebut RUPTL kali ini paling hijau, publik masih menanti bukti nyata. Pertanyaan pun muncul: apakah janji hijau itu akan terwujud sesuai jadwal, atau hanya berhenti sebagai rencana di atas kertas?***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X