“Bayangkan, saya dalam sehari bisa ke empat sampai lima kecamatan berbeda. Belum kalau ada Es Krim yang kurang, saya bisa bolak-balik beberapa kali,” terang Aji.
“Kalau saya tidak masalah, saya kuat karena demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tapi kalau kendaraan saya, mereka butuh BBM dan itu tidak murah,” tegasnya.
Mengadu Nasib di Tengah Geliat Korupsi RI
Terkait kasus dugaan korupsi PT Pertamina, Aji menilai mental para koruptor itu sudah bermunculan sejak lama.
Terlebih, Aji melanjutkan terkait generasi muda yang tidak boleh mencontoh kasus-kasus korupsi yang beredar di media sosial (medsos).
"Mental koruptor memang sudah terbentuk dari lama, kita sebagai generasi muda harus belajar menanam mental yang konsisten," sebutnya.
"Konsisten usaha atau kerja yang giat agar banyak uang dan kaya raya, jadi kalau jadi pemimpin tidak doyan uang haram," lanjut Aji.
‘Pertamax Oplos’ Dinilai Efek Minim Lapangan Kerja
Dalam kesempatan yang sama, Aji menyebut kasus Pertamax oplos yang melibatkan Dirut Pertamina Riva Siahaan akibat efek minimnya lapangan kerja.
Baca Juga: Nama Jokowi Disebut dalam Skandal Suap Hasto Kristiyanto, Ini Peran Krusial Sekjen PDIP
Aji menjelaskan, minimnya lapangan kerja membuat adanya fenomena mencari keuntungan yang instan di tengah masyarakat.
"Intinya ini efek minim lapangan kerja sehingga mencari cuan (keuntungan) secara instan," terangnya.
"Korupsi (Pertamina) itu tanpa disadari berdampingan dengan aktivitas masyarakat sehari-hari, walau mereka dengan nominal kecil tapi itu sering terjadi, apalagi sebesar mereka?" tandas Aji.***