Mediapriangan.com - Budaya feodalisme ternyata masih menjadi persoalan laten dalam birokrasi Indonesia. Fenomena ini kembali disorot setelah Bupati Situbondo, Rio Wahyu Prayogo, menilai bahwa rasa sungkan berlebihan dan pola pikir hierarkis di kalangan pegawai pemerintahan justru menghambat kinerja dan percepatan pelayanan publik.
Dalam siniar Helmy Yahya Bicara pada Kamis, 23 Oktober 2025, Rio Wahyu Prayogo berbagi pengalamannya menghadapi perilaku bawahannya yang dianggap terlalu menjaga jarak hanya demi menunjukkan rasa hormat.
“Saya itu sering ditemui oleh pegawai di daerah, tujuannya untuk memberikan laporan,” ujar Rio Wahyu Prayogo.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Tegaskan Hanya Akui Data BI, Sentil Dana Pemda di Giro Bisa Jadi Sorotan BPK
“Ketika mereka datang, langsung memberikan laporan. Saya tanya, kenapa harus ketemu, kan bisa lewat Zoom, telepon saja?” tuturnya.
Menurut Rio Wahyu Prayogo, kebiasaan tersebut tidak lahir dari kebutuhan profesional, melainkan dari keinginan untuk menjaga simbol penghormatan terhadap atasan.
“Ternyata mereka segan, maksud mereka menghormati. Tapi, ayolah, kita butuh percepatan. Saya tidak suka tradisi yang masih terkesan feodal seperti ini,” imbuhnya.
Dikenal sebagai “bupati milenial”, Rio Wahyu Prayogo menegaskan bahwa pola pikir feodal masih berakar kuat di pemerintahan daerah. Ia yakin banyak pemimpin lain di Indonesia yang merasakan hal serupa.
“Saya yakin, masih banyak pemimpin daerah yang merasakan hal serupa. Bahkan, saya pikir semuanya masih seperti itu,” kata Rio Wahyu Prayogo.
Baca Juga: Kasus Kepala SPPG Bekasi Diduga Lecehkan Bawahan, Korban Cerita Pelecehan Berkedok Permintaan Maaf
Fenomena Feodalisme di Ruang Publik
Pernyataan Rio Wahyu Prayogo seolah menegaskan bahwa budaya feodalisme tidak hanya bertahan di birokrasi, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sosial dan media. Publik masih kerap dihadapkan pada perilaku yang menempatkan status dan jabatan di atas nilai kesetaraan.
Salah satu contoh yang pernah menuai sorotan adalah perilaku penceramah Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah. Dalam video yang viral pada November 2024, ia terlihat mengolok seorang pedagang es teh saat berceramah di Magelang, Jawa Tengah.