Bupati Situbondo Rio Wahyu Sentil Budaya Feodal di Pemerintahan, Sindir Kebiasaan Sungkan dan Penghormatan Berlebihan

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Jumat, 24 Oktober 2025 | 09:05 WIB
Menyoroti pernyataan Bupati Situbondo Rio Wahyu Prayogo terkait praktik feodal yang dinilai masih terjadi di lingkungan pemerintahan RI. (YouTube.com/HelmyYahyaBicara)
Menyoroti pernyataan Bupati Situbondo Rio Wahyu Prayogo terkait praktik feodal yang dinilai masih terjadi di lingkungan pemerintahan RI. (YouTube.com/HelmyYahyaBicara)

Aksi tersebut memicu kritik luas dan dianggap mencerminkan sikap merendahkan, bahkan berbau feodalisme. Akademisi Rocky Gerung kala itu menilai bahwa gelar “Gus” memberi pengaruh sosial besar, namun perilaku seperti itu justru bertentangan dengan nilai keteladanan.

Di bawah tekanan publik, Gus Miftah akhirnya meminta maaf dan mundur dari posisinya sebagai utusan khusus presiden bidang kerukunan beragama.

Baca Juga: Sidak Dedi Mulyadi ke Pabrik Aqua di Subang Bongkar Fakta Mengejutkan, Airnya Bukan dari Mata Air Pegunungan

Ketika Status Jadi Simbol Keistimewaan

Kasus lain yang memperkuat peringatan Rio Wahyu Prayogo terjadi pada awal 2025, saat publik mempersoalkan iring-iringan mobil berpelat RI 36 milik Raffi Ahmad, utusan khusus presiden untuk generasi muda dan pekerja seni.

Mobil tersebut terekam menggunakan patwal untuk membuka jalan, dan menimbulkan perdebatan soal keistimewaan status pejabat.

“Pada saat itu mobil berpelat RI-36 sedang dalam posisi menjemput saya untuk menuju agenda rapat selanjutnya,” jelas Raffi.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Sindir Langkah Pemda Jabar Simpan Dana di Giro, Sebut Malah Lebih Rugi dan Bisa Diperiksa BPK

Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti kemudian menilai bahwa kasus ini memperlihatkan wajah feodalisme di pemerintahan.

“Feodalisme bukan hanya soal jabatan, tetapi soal mentalitas yang memberi keistimewaan pada status,” ujar Bivitri Susanti.

Menurutnya, banyak orang tanpa sadar turut memelihara budaya ini melalui sikap tunduk terhadap simbol kekuasaan.

“Bahkan sebagian dari kita yang pikirannya sudah dirasuki malah jadi menghamba sosok-sosok berstatus, sampai selalu bilang ‘siap’ dan ‘mohon izin’,” tambahnya.

Baca Juga: Utang Whoosh Bengkak Rp75 Triliun, Harris Turino Desak Audit Forensik dan Reformasi Sistem Pengadaan Proyek Nasional

Akar dan Makna Feodalisme di Masa Kini

Secara historis, feodalisme berakar dari sistem sosial-politik Eropa Barat abad pertengahan, di mana kekuasaan berada di tangan bangsawan, dan rakyat hanya menjadi pengikut yang wajib tunduk.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X