AHY Bongkar Pertimbangan Berat di Balik Rencana Rute Whoosh Jakarta Surabaya, Sentil Soal Utang dan Pemerataan Wilayah

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Kamis, 23 Oktober 2025 | 06:02 WIB
Menko IPK, Agus Harimurti Yudhoyono, membeberkan soal proyek Whoosh rute Surabaya.  (Instagram/agusyudhoyono)
Menko IPK, Agus Harimurti Yudhoyono, membeberkan soal proyek Whoosh rute Surabaya. (Instagram/agusyudhoyono)

 

Mediapriangan.com - Pemerintah tengah mengkaji kemungkinan memperpanjang rute Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh dari Jakarta-Bandung hingga Surabaya.

Rencana ambisius ini menimbulkan banyak pertanyaan, terutama karena proyek tahap pertama disebut menambah beban utang negara hingga Rp116 triliun.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa proyek lanjutan tersebut tidak bisa diputuskan secara terburu-buru.

Baca Juga: China Buka Suara Soal Utang Proyek Whoosh, Siap Lanjutkan Kerja Sama Meski Indonesia Tegas Tolak Pakai APBN

Menurutnya, perlu pertimbangan matang baik dari sisi pembiayaan maupun manfaat ekonomi yang akan dirasakan masyarakat di sepanjang jalur yang dilewati.

“Saya ingin menegaskan, kita semua tentu ingin konektivitas meningkat signifikan. Bisa dibayangkan jika Jakarta-Surabaya bisa ditempuh hanya tiga jam, betapa efisien waktu perjalanan itu,” ujar AHY kepada wartawan di Kantor Kemenko IPK, Jakarta Pusat, Selasa (21/10/2025).

AHY bahkan menggambarkan bagaimana efisiensi waktu tempuh itu bisa memberi dampak langsung bagi mobilitas warga. “Kalau saya kuliah di Surabaya, mungkin bisa pulang pergi tiap hari sambil ngerjain tugas atau ikut rapat dan langsung kembali ke Jakarta,” imbuhnya.

Baca Juga: Akar Kontroversi Proyek Whoosh, Keputusan Pindah dari Jepang ke China, Skema B2B Dinilai Jadi Beban Panjang

Namun, ia menekankan bahwa rencana tersebut tidak semata-mata soal membangun infrastruktur. Menurut AHY, keterbatasan anggaran menjadi tantangan besar yang tak bisa diabaikan.

“Kalau kita hanya fokus pada rute Surabaya saja, maka seolah kita tidak peka terhadap kebutuhan pemerataan pembangunan di wilayah lain,” jelasnya.

Selain masalah anggaran, AHY menyoroti pentingnya manfaat ekonomi bagi daerah yang dilalui jalur kereta cepat. Ia menekankan agar proyek tidak hanya membangun rel, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi kawasan sekitar.

Baca Juga: Kereta Cepat Whoosh Terlambat hingga 50 Menit, PT KCIC Sebut 50 Gangguan Akibat Layang-layang di Dekat Rel Kereta Cepat

“Kawasan-kawasan transit harus bisa memberikan benefit nyata. Dengan pendekatan Transit Oriented Development (TOD), kawasan di sekitar stasiun dapat dikembangkan untuk mendukung stabilitas pembiayaan,” ungkapnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X