Pada tahap tersebut, para korban biasanya telah dievakuasi dan berkumpul di Posko Pengungsian.
“Pertama itu biasanya kan pencarian dan penyelamatan, di pencarian dan penyelamatan itu sekaligus pertolongan pertama dan evakuasi. Itu, biasanya dikumpulkan di tempat tertentu,” paparnya.
“Pelayanannya sudah harus dimulai untuk mencegah penyakit-penyakit itu tidak menyebar, tidak tambah buruk,” tuturnya.
Baca Juga: Bantuan Logistik TNI ke Gayo Lues Berbuah Haru, Warga Gayo Lues Balas dengan Hasil Panen Melimpah
Ia mengingatkan, keterlambatan Pelayanan Kesehatan Pascabanjir berisiko memperparah kondisi pengungsi dan meningkatkan penularan penyakit di Posko Pengungsian.
“Kalau terlambat penanganan, kasihan udah menderita, tidak punya apa-apa, kemudian sakit, tidak ada yang menangani, sakitnya akan tambah parah, menyebar ke camp. Risiko penyebaran di camp kalau tidak ditangani,” terangnya.
“Kadang kondisinya sulit, tapi kita harus cari cara untuk menghidupkan posko-posko itu dan ada pelayanan kesehatan,” tegas Dokter Daeng Mohammad Faqih.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kesiapan Posko Pengungsian dan penguatan Pelayanan Kesehatan Pascabanjir menjadi kunci utama untuk melindungi kesehatan warga terdampak bencana.***