Bursah Zarnubi disebut menjadi salah satu tokoh penting dalam fase awal tersebut. Meski berasal dari lingkungan HMI, Bursah tidak bergerak sendirian. Hamid menyebut dukungan dari sejumlah aktivis senior, termasuk Ekky Syahrudin dan Hariman Siregar.
“‘Bang Hariman adalah tokoh yang menginspirasi langsung pendirian Humanika ini. Rasanya ada dua kelompok yang waktu itu diinspirasi oleh beliau, yang satunya adalah Pijar’ kata Bursah dalam sambutannya,” lanjutannya, mengutip pidato yang diucapkan oleh Bursah Zarnubi dalam acara tersebut.
Perjalanan Bursah Zarnubi Setelah HUMANIKA
Bagi Hamid, perjalanan Bursah menjadi salah satu gambaran mengenai jejak alumni HUMANIKA setelah melewati masa aktivisme.
Ia mencatat Bursah pernah menjadi anggota DPR dan Ketua Partai Bintang Reformasi. Saat ini, Bursah menjabat sebagai Bupati Lahat dan Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia atau Apkasi.
Hamid juga mengaitkan banyaknya tamu dari berbagai daerah yang hadir dalam perayaan 36 tahun HUMANIKA dengan hubungan sosial yang dibangun Bursah selama puluhan tahun.
“Arus tamu yang besar dari berbagai daerah itu praktis mengalir karena magnet Bursah, yang sedikitnya dalam empat dekade terakhir tetap membumi, selalu tampil apa adanya, selalu hangat dalam pergaulan, dan mashur dengan kesetiakawanannya yang kuat. Keotentikannya perlahan-lahan menjadikan dirinya sebagai pemimpin organik,” imbuh Hamid.
Namun, catatan Hamid tidak hanya berkutat pada sosok Bursah. Ia justru memberi ruang cukup besar kepada Melly Zarnubi, istri Bursah, yang menurutnya memiliki cerita tersendiri dalam perjalanan awal HUMANIKA.
Melly Zarnubi dan Sate Ayam untuk Peserta Diskusi
Hamid menggambarkan Melly sebagai sosok yang ikut merawat kegiatan HUMANIKA dari ruang yang lebih domestik. Pada masa awal organisasi, diskusi rutin disebut berlangsung di rumah kontrakan Bursah dan Melly di kawasan Gang Poncol, Jakarta Selatan.
“Tapi bintang malam itu bagi saya adalah Sri Meliyana alias Melly Zarnubi, yang mengaku ‘datang dari keluarga baik-baik dan tertib.’ Karena menikah dengan Bursah, ia ‘terpaksa’ menyesuaikan diri dengan langgam hidup suaminya yang tak menentu. Tiap hari Bursah pulang pagi, seolah sangat sibuk memikirkan masa depan negara bersama kawan-kawan yang bernasib sama tak menentunya yang ia deklarasikan dengan heroik sebagai ‘harta saya yang paling berharga.’ Ekonomi keluarga tentu saja masuk dalam daftar masalah,” tulisnya.
Menurut Hamid, Melly tampil sebagai pencerita yang mampu menghidupkan kembali sejumlah memori tentang masa awal HUMANIKA.