Sindiran Keras untuk Wali Kota Viman, Spanduk Protes dan Celana Dalam Bekas Kepung Balekota Tasikmalaya

photo author
Asep M.S, Media Priangan
- Jumat, 17 April 2026 | 18:45 WIB
Pemandangan miris di depan Gedung Balekota Tasikmalaya. Spanduk sindiran dan pajangan celana dalam bekas jadi simbol kekecewaan warga pada Wali Kota Viman. (Dok. AMS)
Pemandangan miris di depan Gedung Balekota Tasikmalaya. Spanduk sindiran dan pajangan celana dalam bekas jadi simbol kekecewaan warga pada Wali Kota Viman. (Dok. AMS)

TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Miris, lebih dari satu bulan, pemandangan di Jalan Letnan Harun tepatnya depan Gedung Balekota Tasikmalaya terlihat tidak lazim sekaligus memalukan.

Lokasi Gedung kantor Wali Kota Tasikmalaya yang setiap harinya menjadi tempat bertugasnya sejumlah pejabat dan ASN di penuhi spanduk tak bertuan dengan berbagai ukuran.

Mirisnya lagi ditempat tersebut di penuhi pakaian bekas termasuk "maaf" celana dalam wanita dan laki-laki yang disimpan dengan cara digantungkan pada seutas tali yang seolah sedang dijemur.

Ketika didekati, kalimat di dalam spanduk tersebut isinya berisi sindiran yang menguliti gaya kepemimpinan orang nomor satu di Kota Tasikmalaya: "Wapres Datang Wali Kota Terdepan, Giliran Masyarakat Datang Wali Kota Menghilang".

Baca Juga: Rekor Sejarah! Kuota Haji Kota Tasikmalaya 2026 Melonjak Dua Kali Lipat, Viman Alfarizi Lepas 1.348 Jemaah

Kehadiran spanduk itu diduga kuat merupakan akumulasi kekecewaan masyarakat Kota Tasikmalaya terhadap Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan.

Narasi yang diusung sangat jelas dimana Wali Kota Viman Alfarizi Ramadhan dianggap lebih memprioritaskan "seremoni" pejabat pusat ketimbang mendengar jeritan rakyatnya sendiri.

Keberadaan spanduk itu juga bukan sekadar kain di pinggir jalan, melainkan cerminan krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah di tengah tuntutan transparansi dan keberpihakan pada rakyat kecil.

"Hilangnya" sosok pemimpin saat dibutuhkan menjadi preseden buruk bagi demokrasi di Kota Tasikmalaya.

Baca Juga: Lima Tahun Permatadora Konsisten Penuhi Kebutuhan Darah di Kota Tasikmalaya

Amarah publik yang dituangkan dalam spanduk itu dipicu oleh rentetan aksi unjuk rasa di depan Balekota Tasikmalaya yang selalu berakhir buntu. Sosok Wali Kota Viman dituding seolah "alergi" menemui massa aksi yang datang menagih janji dan menyampaikan aspirasi.

Beberapa kali gelombang protes besar-besaran datang dari berbagai elemen masyarakat Kota Tasikmalaya. Alih-alih mendapatkan ruang dialog, massa aksi justru harus menelan kekecewaan karena sang Wali Kota Viman kembali absen.

Tersiar kabar bahwa setiap kali massa aksi mengepung Balekota Tasikmalaya, pihak pemerintah selalu berdalih Wali Kota Viman sedang memiliki "agenda lain" di luar kantor.

Hal inilah yang memicu stigma negatif bahwa Viman enggan berhadapan langsung dengan keresahan masyarakatnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X