Baca Juga: Modus Makin Beragam, Tiga WN Malaysia Gagal Selundupkan Narkotika Lewat Bandara Soekarno-Hatta
Dalam permintaan maaf tersebut, dr Elda mengakui bahwa tindakan yang dilakukannya tidak mencerminkan sumpah profesi kedokteran.
Ia juga menyadari pentingnya menjunjung nilai moral dan etika dalam menjalankan profesinya sebagai dokter dan tenaga kesehatan.
"Sebagai dokter dan tenaga kesehatan, saya seharusnya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, bagi sebagai individu, alumni institusi pendidikan, maupun penerima beasiswa LPDP," tulis dr Elda.
Pernyataan tersebut menjadi respons langsung setelah komentarnya menuai kritik di media sosial.
Polemik dr Elda dan Etika Dokter di Media Sosial
Kasus dr Elda Putri Rahardini kembali membuka pembahasan mengenai etika dokter ketika berinteraksi di media sosial.
Keluhan pasien terhadap pelayanan kesehatan dapat menjadi bentuk kritik yang disampaikan secara terbuka. Namun, respons tenaga kesehatan terhadap keluhan tersebut tetap memiliki konsekuensi karena komunikasi di media sosial dapat dengan mudah tersebar di luar konteks awal.
Bagi tenaga kesehatan, persoalan tersebut menjadi semakin penting karena profesi dokter berkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat.
Komentar yang dianggap tidak empatik dapat memunculkan persepsi negatif, terutama ketika diarahkan kepada seseorang yang tengah menghadapi persoalan kesehatan.***
Artikel Terkait
35 Siswa Terbaik Disiapkan Jadi Paskibraka HUT ke 81 RI Tingkat Kota Tasikmalaya
Penebangan Pohon di Kota Bandung Disorot, Dedi Mulyadi Desak Sanksi untuk Lurah hingga Kepala DLH
Helmy Yahya Soroti Ebemartono, Etika Konten Kreator Jadi Sorotan usai Polemik Rekam SPG GIIAS 2026
Gudang Barbek Terbakar di Kota Tasikmalaya, Enam Unit Damkar Dikerahkan Padamkan Kobaran Api
Atap Rumah Hampir Roboh, Wartawan di Lembang Dapat Bantuan Renovasi dari Promedia Group dan SKI
Mahasiswi UNG Tewas Terseret Ombak Pantai Pulau Bogisa, Sempat Ditolong Wisatawan Jerman