Media, Idealisme, dan Bisnis Media: Mengapa Jurnalisme Harus Berubah agar Tetap Bertahan

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Sabtu, 22 Agustus 2026 | 20:59 WIB
Media, idealisme, bisnis media, dan jurnalisme kini diuji. Tantangannya bukan memilih idealisme atau bisnis, tetapi menemukan model yang berkelanjutan (Ilustrasi - by AI)
Media, idealisme, bisnis media, dan jurnalisme kini diuji. Tantangannya bukan memilih idealisme atau bisnis, tetapi menemukan model yang berkelanjutan (Ilustrasi - by AI)

 

 

Oleh: Agus Sulistriyono
CEO Promedia Group

 

ADA satu kenyataan yang mungkin tidak nyaman untuk dibicarakan di kalangan pers: idealisme itu penting, tetapi idealisme saja tidak cukup untuk membayar gaji. Kalimat ini mungkin terdengar pragmatis. Bahkan bisa dianggap terlalu bisnis. Tetapi justru karena saya percaya pada jurnalisme, persoalan ini harus dibicarakan secara terbuka.

Wartawan harus digaji. Editor harus digaji. Kantor, teknologi, server, liputan, perjalanan, semuanya membutuhkan biaya. Pers membutuhkan idealisme untuk tetap dipercaya. Tetapi perusahaan pers membutuhkan bisnis untuk tetap hidup.

Persoalan saat ini, lanskap bisnis media berubah begitu cepat. Dulu, ketika orang membutuhkan informasi, media menjadi tujuan utama. Ketika perusahaan ingin menjangkau publik, media menjadi salah satu pintu utama. Audiens ada di media, maka iklan pun datang ke media.

Hari ini, situasinya berbeda. Perhatian publik sudah tersebar ke mana-mana. Ada TikTok, Instagram, YouTube, podcast, influencer, KOL, content creator, streamer, akun komunitas, dan entah apa lagi yang akan lahir setelah ini.

Semuanya memperebutkan satu komoditas yang sama: perhatian manusia (attention). Dan ke mana perhatian pergi, uang biasanya mengikuti. Anggaran komunikasi perusahaan yang dulu banyak mengalir ke media kini harus berbagi dengan influencer, KOL, creator, digital agency, platform social media, marketplace hingga live commerce.

Kue ekonominya tidak hilang. Kuenya berpindah meja. Ironisnya, ketika ekosistem media semakin besar, banyak perusahaan pers justru semakin kecil. Redaksi yang dahulu berisi ratusan orang menyusut jadi puluhan orang. Bahkan semakin banyak media yang bertahan hanya dengan tiga sampai lima orang.

Bukan karena mereka tiba-tiba kehilangan idealisme. Sering kali persoalannya sederhana: pendapatannya tidak lagi sanggup menopang struktur biaya lama. Di sinilah menurut saya kita perlu membedakan antara media dan perusahaan pers. Media sebenarnya tidak sedang mati. Justru sebaliknya, media sedang meledak.

Hari ini hampir setiap orang bisa menjadi media. Satu orang dengan smartphone dapat memproduksi informasi, membangun audiens jutaan orang, memengaruhi keputusan publik, bahkan menghasilkan pendapatan yang mungkin lebih besar daripada sebuah perusahaan pers dengan belasan karyawan.

Kita boleh menyebut mereka influencer, KOL, YouTuber, TikToker, podcaster atau content creator. Tetapi secara fungsi, mereka melakukan sebagian pekerjaan yang selama puluhan tahun menjadi kekuatan media: memproduksi pesan, mendistribusikannya, membangun audiens dan memengaruhi publik.

Tentu pers berbeda. Jurnalisme mempunyai verifikasi, kode etik, tanggung jawab dan disiplin profesi. Nilai-nilai itu tidak boleh dibuang hanya karena zaman berubah. Justru di situlah kekuatan pers. Tetapi industri pers juga jangan terjebak merasa paling berhak disebut media.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Reforma Agraria, Ujian Pemerintah Daerah

Senin, 17 Agustus 2026 | 20:31 WIB

Opini: Cara Islam Menyerap Tenaga Kerja

Senin, 7 Agustus 2023 | 19:19 WIB

KDRT Dalam Perspektif Sosiologis

Minggu, 17 Mei 2020 | 21:23 WIB
X