Daratan Baru di Dekat Gunung Anak Krakatau Bikin Heboh, Daryono Ungkap Apakah Bisa Jadi Gunung Api Baru

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Kamis, 24 September 2026 | 19:14 WIB
Daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung disebut bukan gunung api baru. Daryono menjelaskan proses terbentuknya. (Instagram.com/@cretivox)
Daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung disebut bukan gunung api baru. Daryono menjelaskan proses terbentuknya. (Instagram.com/@cretivox)

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, BNPB Petakan Sirene Tsunami di Pesisir Banten

Akan Membesar atau Lenyap Kembali?

Terkait adanya kemungkinan daratan baru tersebut akan membesar, Daryono menyebut, kondisi itu sangat bergantung pada aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

"Apakah daratan ini bisa membesar atau justru lenyap kembali? Jawabannya sangat bergantung pada pertarungan antara aktivitas vulkanik dan erosi alam," bebernya.

"Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan tersebut makin meluas," imbuh Daryono.

Daryono juga menuturkan, ada pula kemungkinan apabila erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir yang belum padat sehingga 'daratan baru itu' dapat tenggelam kembali.

Terlebih, longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda endapan tersebut dalam waktu singkat.

Baca Juga: 8 Orang Hilang di Selat Sunda, 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal Dicari Usai Liputan Gunung Anak Krakatau

Layak Disebut sebagai Gunung Api Baru?

Dalam penuturannya, Daryono memaparkan 3 syarat geologis suatu daratan bisa dikategorikan sebagai gunung api baru yang berdiri sendiri.

Pertama, daratan tersebut harus memiliki saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru, terpisah dari kawah induknya.

Kedua, daratan itu wajib menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya, bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga.

Ketiga, harus terdapat struktur geologis serta deformasi sendiri, yaitu adanya aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.

"Menghadapi fenomena ini, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu spekulatif yang beredar di media sosial," jelas Daryono.

"Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif," tandasnya.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Enam Jalan Belum Beres, Warga Kembali Menunggu

Kamis, 24 September 2026 | 15:52 WIB

SOR Mangunreja Dikebut, Rp72 Miliar Siap Digelontorkan

Kamis, 24 September 2026 | 12:16 WIB
X