Hajat Lembur Pangandaran Bukan Sekadar Ritual, Abah Anton Dorong Budaya Sunda Jadi Daya Tarik Wisata

photo author
Asep M.S, Media Priangan
- Senin, 12 Oktober 2026 | 14:47 WIB
Hajat Lembur Pangandaran digelar di Desa Babakan, Minggu (11/10/2026). Abah Anton (tengah) mendorong pertunjukan budaya rutin di kawasan wisata. (Dok. AMS)
Hajat Lembur Pangandaran digelar di Desa Babakan, Minggu (11/10/2026). Abah Anton (tengah) mendorong pertunjukan budaya rutin di kawasan wisata. (Dok. AMS)

 

PANGANDARAN, Mediapriangan.com - Hajat Lembur bertema “Mupusti Tradisi, Mulasara Budaya, Neraskeun Carita Kolot” yang digelar di Lembur Kuring, Dusun Bojongkarekes, RW 13, Desa Babakan, Kabupaten Pangandaran, Minggu 11 Oktober 2026, berlangsung meriah.

Kegiatan tersebut mendorong pemerintah memperkuat pelestarian budaya Pangandaran melalui dukungan, ruang pertunjukan, dan integrasi dengan sektor pariwisata. Acara dihadiri sejumlah tokoh adat Jawa Barat, unsur Pemerintah Kabupaten Pangandaran, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan tamu undangan lainnya.

Ketua Umum Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat periode 2026-2027, Irjen Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N. atau yang akrab dikenal Abah Anton, mengatakan Hajat Lembur merupakan kekayaan budaya yang perlu dikembangkan menjadi agenda budaya daerah, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Baca Juga: 3 Tempat Makan Pangandaran yang Bikin Penasaran, Ada Soto Jarkomi hingga Seafood, Mana yang Paling Menggoda?

"Wisata tanpa budaya ibarat kebun yang kering. Supaya menjadi taman yang hijau, perlu ada integrasi dan kolaborasi antara pariwisata dan budaya,” ujar Abah Anton kepada wartawan, Senin (12/10/2026).

Menurut Anton, nilai-nilai tradisi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari agar pelestarian budaya tidak kehilangan makna.

"Kalau hanya seremonial, pada akhirnya bukan lagi budaya, melainkan sekadar memperingati event budaya. Kalau ingin benar-benar menjadi budaya, harus melekat dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Ia juga menyoroti keterbatasan ruang pertunjukan bagi pelaku seni dan budaya di Pangandaran. Padahal, daerah tersebut memiliki banyak padepokan dan kelompok kesenian.

Baca Juga: Pelayanan Publik Pangandaran Didorong Makin Cepat, Registrasi TTE PPPK Paruh Waktu Tembus 55,27 Persen

Hajat Lembur bertema “Mupusti Tradisi, Mulasara Budaya, Neraskeun Carita Kolot” di Desa Babakan, Kabupaten Pangandaran, Minggu (11/10/2026).
Hajat Lembur bertema “Mupusti Tradisi, Mulasara Budaya, Neraskeun Carita Kolot” di Desa Babakan, Kabupaten Pangandaran, Minggu (11/10/2026). (Dok. AMS)

Untuk itu, Abah Anton mendorong Pemerintah Kabupaten Pangandaran menyediakan ruang pertunjukan yang dapat digunakan secara rutin, termasuk di kawasan wisata, pusat kegiatan masyarakat, dan hotel.

Menurut Abah Anton, pertunjukan budaya seperti ronggeng, kecapi suling, dan kesenian tradisional lainnya berpotensi menjadi atraksi bagi wisatawan domestik dan mancanegara.

“Kalau sudah teragendakan dan terjadwalkan, wisatawan bisa mengetahui bahwa setiap hari tertentu ada pertunjukan kesenian di Pangandaran. Ini bisa menjadi daya tarik tersendiri,” ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X