BEKASI, Mediapriangan.com - Operasi pencarian dan pertolongan dalam insiden memilukan di Stasiun Bekasi Timur resmi berakhir pada Selasa siang.
Kecelakaan hebat yang melibatkan KA Argo Bromo dan rangkaian KRL Commuter Line pada jam pulang kerja tersebut menyisakan duka mendalam, terutama bagi para pejuang transportasi publik di ibu kota.
Fakta memilukan terungkap saat proses evakuasi dilakukan oleh tim SAR gabungan. Akibat hantaman keras pada bagian belakang KRL yang sedang berhenti, area gerbong perempuan menjadi titik paling terdampak hingga mengalami kerusakan struktural yang parah.
Kepala Basarnas, Mayjen M Syafii, mengonfirmasi bahwa seluruh jenazah yang berhasil dikeluarkan dari reruntuhan kereta adalah wanita. Data terbaru mencatat sebanyak 14 korban meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka dalam tragedi tersebut.
"100 persen yang kita evakuasi (korban) perempuan," ungkapnya.
Syafii menyatakan bahwa fokus timnya telah tuntas di lapangan setelah memastikan tidak ada lagi penumpang yang terjepit di antara badan KA Argo Bromo maupun rangkaian KRL.
"Proses evakuasi sudah selesai. Seluruh tim SAR kita nyatakan, kita kembalikan ke home base masing-masing," tambah Syafii.
Di balik kronologi kejadian, muncul dugaan kuat mengenai adanya malafungsi pada sistem pengaturan lalu lintas kereta di area Stasiun Bekasi Timur.
Sebelum KA Argo Bromo menghantam KRL dari belakang, jalur tersebut dilaporkan tengah mengalami kendala akibat adanya taksi yang tertemper kereta lain di perlintasan terdekat.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mensinyalir adanya gangguan teknis pada infrastruktur persinyalan yang membuat tabrakan tersebut tidak terhindarkan.