Para perajin berharap pemerintah segera menghadirkan solusi konkret agar roda produksi tetap berjalan dan para pekerja tidak kehilangan mata pencaharian. Mereka menginginkan kondisi usaha kembali stabil seperti sebelum harga kedelai melonjak.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Chandra, turun langsung mengunjungi sejumlah pabrik tahu di Kecamatan Indihiang dan Kecamatan Mangkubumi. Kunjungan itu dilakukan untuk mendengar langsung aspirasi para pelaku UMKM tahu sekaligus mencari langkah penyelesaian yang memungkinkan dilakukan pemerintah daerah.
Setelah menerima berbagai masukan dari para perajin tahu Kota Tasikmalaya, Diky Chandra mengaku langsung berkoordinasi dengan Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya.
Menurutnya, Pemerintah Kota Tasikmalaya berencana menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah pihak terkait guna merumuskan langkah strategis menghadapi persoalan yang sedang dihadapi pelaku usaha.
Baca Juga: WTP Kota Tasikmalaya Raih Rekor 10 Kali Beruntun, LKPD 2025 Kembali Diganjar Opini Tertinggi BPK
"Kami sadar kondisi fiskal sedang tidak baik. Tapi pemerintah tidak boleh diam. Kami akan terus berupaya mencari jalan keluar agar UMKM tahu tidak kolaps," katanya.
Diky Chandra menegaskan akan membawa persoalan tersebut kepada pimpinan daerah serta mengkaji berbagai skema bantuan yang realistis untuk membantu para pelaku usaha.
"Mereka adalah masyarakat yang harus dibantu. Mereka juga sudah membuka lapangan kerja dan menjaga roda ekonomi lokal tetap hidup,” ujarnya.
Selain persoalan harga kedelai, Diky Chandra juga menyoroti praktik perang harga tahu yang terjadi di kalangan perajin. Ia menilai kondisi tersebut harus segera dihentikan karena berpotensi merugikan seluruh pelaku usaha.
"Seharusnya jangan ada persoalan silih banting harga. Kami imbau para perajin kompak dan saling bantu, karena kalau seperti itu tidak dihentikan, pada akhirnya akan merugikan pelaku usahanya sendiri," kata dia.
Untuk jangka panjang, Diky Chandra mendorong para perajin membentuk asosiasi perajin tahu yang lebih solid. Menurutnya, organisasi yang kuat akan meningkatkan posisi tawar pelaku usaha terhadap pasar maupun pemasok bahan baku.
"Sehingga asosiasi bisa menjaga stabilitas harga dan melindungi kepentingan anggotanya. Kalau kompak, posisi tawar ke pasar dan ke pemasok bahan baku juga lebih kuat. Jangan mau dipecah belah," tegasnya.***