Baca Juga: 22 Warga Garut Jadi Korban Kecelakaan Kapal Virgo Transport 8, Dua Korban Meninggal Dunia
Selain posisi kapal, keberadaan ruang kosong di dalam badan kapal juga menjadi perhatian. Basarnas memperhitungkan kemungkinan perubahan tekanan apabila sekat tertentu dibuka secara paksa.
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko terhadap penyelam yang sedang bekerja di dalam badan KM Virgo Transport 8.
"Begitu juga pada saat ada ruang-ruang di kapal yang kosong ini, kalau kita sampai memaksakan untuk masuk," tuturnya.
"Apabila kita membuka misalkan salah satu sekat dari ruang kosong ini, di situ ada perubahan tekanan yang luar biasa, tentunya ini akan sangat membahayakan," imbuhnya.
Cuaca dan Arus Laut Jadi Kendala
Pencarian 129 korban yang masih belum ditemukan juga berlangsung di tengah kondisi cuaca dan arus laut yang tidak mudah diprediksi. Situasi tersebut membuat operasi bawah air harus disiapkan dengan perhitungan matang.
Tim SAR masih mengevaluasi metode yang memungkinkan untuk menjangkau bagian dalam kapal tanpa menambah risiko terhadap personel yang terlibat dalam proses evakuasi.
Basarnas pun melibatkan personel yang memiliki pengalaman dan pendidikan khusus untuk membahas langkah berikutnya dalam operasi KM Virgo Transport 8.
"Kita akan melaksanakan diskusi dan kita melibatkan personel-personel yang memang memiliki kemampuan, baik itu pengalaman atau pendidikan di kondisi-kondisi ini. Ini yang akan kita kembangkan," ujar Syafii.
Salah satu langkah yang sedang dikaji adalah mengubah posisi KM Virgo Transport 8 dari kondisi tengkurap. Jika memungkinkan dilakukan dengan aman, perubahan posisi kapal dapat membuka peluang pencarian di bagian dalam badan kapal.
Namun, rencana tersebut masih dalam tahap kajian. Kondisi arus, tekanan di dalam kapal, kekuatan struktur badan kapal serta keselamatan penyelam menjadi sejumlah faktor yang harus diperhitungkan sebelum tindakan dilakukan.
Sebelumnya, KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak ketika berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin pada Minggu, 13 September 2026 dini hari. Kapal tersebut kemudian ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan Laut Jawa pada Senin, 14 September 2026.***