Selain itu juga penting menekankan pengembangan skill bagi para siswa. Untuk itu, ia mengimbau para guru terus membuat terobosan-terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM.
“Tanpa skill masa depan, manusia bisa di-grounded. Itulah kenapa reskilling menjadi kritis dan penting saat ini," terangnya.
Oleh menambahkan," Sebab, dua tahun yang akan datang penggunaan mesin sudah 42 persen. Tahun 2025 penggunaan mesin sudah 52 persen,” tambahnya.
Fenomena ini, menjadi tantangan nyata bagi dunia pendidikan, guru mau tidak mau dituntut lebih untuk bisa memperhatikan itu dan penguatan yang lebih pentingnya adalah penguatan pendidikan agama.
“Guru harus dapat meneguhkan posisi anak didik agar tetap berada dalam jatidiri bangsa Indonesia yang relijius dan agamis,” imbuhnya.
Jika dilihat dari dunia pendidikan, era ini memiliki dampak positif. Tetapi hal ini juga bisa menyebabkan dehumanisasi atau ketercerabutan sisi kemanusiaan dari diri bangsa.
“Saya berpesan agar para pendidik tak lupa memperkenalkan ilmu agama kepada muridnya agar dapat memilah dampak positif dan negatif dari tantangan globalisasi dan era kecepatan teknologi ini," tegasnya.
Namun, Oleh juga mengingatkan," Negara berkewajiban untuk memperbaiki manajemen pendidik,” pungkasnya.***