Selain itu, pemerintah juga menawarkan insentif seperti subsidi perumahan, informasi keseimbangan kerja, dan dukungan pengasuhan anak.
Bahkan, Pemerintah Metropolitan Tokyo meluncurkan aplikasi kencan resmi untuk mempermudah warganya menemukan pasangan.
Namun, para ahli menilai bahwa penurunan populasi tetap akan berlanjut meskipun angka kesuburan meningkat.
Resesi Seks: Masalah yang Memburuk
Fenomena “resesi seks” turut memperburuk krisis kelahiran di Jepang. Survei tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 60 persen pasangan menikah jarang atau hampir tidak pernah melakukan hubungan seksual.
Studi ini mengungkapkan bahwa kelelahan akibat pekerjaan, kehilangan minat pada pasangan, serta pandangan bahwa hubungan seksual mengganggu rutinitas menjadi alasan utama.
Anggaran Besar untuk Mengatasi Resesi Seks
Dalam upaya mengatasi masalah ini, pemerintah Jepang menganggarkan US$25 miliar untuk subsidi pendidikan, perawatan prenatal, dan cuti ayah.
Namun, dengan populasi lansia terbesar kedua di dunia, Jepang menghadapi tantangan berat untuk membalikkan tren demografi ini.
Dukungan pemerintah harus ditingkatkan agar generasi muda tidak terus-menerus terbebani oleh dominasi populasi lansia.
Dengan angka kelahiran yang terus merosot dan fenomena sosial seperti resesi seks, masa depan Jepang menghadapi ancaman serius.
Upaya pemerintah diperlukan secara konsisten untuk mencegah hilangnya generasi muda dan menjaga keberlangsungan populasi negara.***