Wacana pembunuhan ini mencuat usai pernyataan kontroversial dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang menyiratkan bahwa perdamaian hanya bisa tercapai jika Khamenei dieliminasi.
Isu ini semakin menghangat setelah Presiden AS Donald Trump mengunggah pernyataan di platform Truth Social pada 17 Juni 2025 lalu.
Dalam unggahannya, Trump menyebut dirinya mengetahui lokasi Khamenei dan mengklaim memiliki kemampuan untuk “menghentikannya kapan saja.”
Namun demikian, ia menyatakan bahwa saat ini serangan langsung terhadap Khamenei belum menjadi prioritas, sambil tetap membuka peluang jalur diplomasi untuk menekan Iran menghentikan program nuklirnya.
Meski belum ada tindakan konkret, pernyataan tersebut telah memicu reaksi internasional yang kuat. Rusia menjadi salah satu negara yang paling vokal dalam menyatakan penolakan atas potensi pembunuhan politik tersebut.
Dengan situasi yang terus memanas, para pengamat menilai bahwa satu langkah salah dari pihak mana pun bisa memicu eskalasi besar yang tak hanya membahayakan Timur Tengah, tetapi juga stabilitas global.***