Di tengah konflik yang menguat, tekanan terhadap pemerintahan Paetongtarn pun meningkat. Ia tak hanya menghadapi sengketa internasional yang bisa berkembang menjadi krisis militer, tetapi juga berhadapan dengan kondisi ekonomi nasional yang melemah, koalisi pemerintahan yang rapuh, dan ancaman mosi tidak percaya dari parlemen.
Kondisi ini membuat masa depan politik Paetongtarn sebagai perdana menteri semakin dipertanyakan, terutama jika konflik terus meluas tanpa solusi diplomatik yang nyata.***