Pandangan ini sejalan dengan konsep kesehatan mental modern, di mana kesadaran diri menjadi dasar untuk mengelola pikiran, emosi, dan perilaku.
Sebagai seorang dokter, Avicenna juga menekankan pentingnya keseimbangan antara tubuh dan jiwa. Tubuh yang sehat memberi energi, sementara jiwa yang tenang memberi arah.
“Jiwa adalah kesempurnaan, dan tubuh hanyalah wadahnya,” tegas Ibnu Sina.
Ia percaya kecerdasan tidak lahir hanya dari banyaknya pengetahuan, tetapi juga dari kemampuan jiwa untuk menerima, mengolah, dan memaknai kebenaran.
Pemikiran ini membuat Avicenna seolah telah membicarakan konsep mindfulness berabad-abad sebelum istilah tersebut populer.
Ia mengajak manusia untuk mengenali diri, menata hati, dan membangun ketenangan batin demi mengoptimalkan kerja pikiran.***
Artikel Terkait
Jelang Idul Adha 2025, Bolehkah Jual Daging Kurban? Ini Penjelasan Ulama dan Dalil dari Al-Qur’an serta Hadits Rasulullah
Idul Adha 2025, Ini 3 Golongan yang Wajib Menerima Daging Kurban, Jangan Salah Saat Membagikannya!
Idul Adha 6 Juni 2025 Jatuh di Hari Jumat, Masih Wajibkah Pria Muslim Melaksanakan Shalat Jumat?
Sejarah Mabit di Muzdalifah dan Maknanya Usai Wukuf, Ini Penjelasan Lengkap Ibadah Wajib Haji 2025
Ini Makna dan Rangkaian Ibadah di Mina Usai Wukuf, dari Lempar Jumrah Hingga Mabit Tiga Malam Penuh Berdoa
Update Haji 2025, Puncak Ibadah Wukuf Selesai, Kemenag Resmi Tutup Penyelenggaraan di Arafah Hari Ini