Selain membuka peluang kerja di dalam negeri, Yassierli juga menyebutkan bahwa ada kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia untuk bekerja ke luar negeri, salah satunya ke Jepang yang membuka 800 ribu lowongan setiap tahun.
Namun, ia tak menutup mata terhadap keluhan publik terkait proses rekrutmen yang dinilai menyulitkan. Mulai dari syarat yang rumit, kualifikasi pendidikan minimal S1, hingga isu diskriminasi penampilan.
Menaker pun menegaskan sudah ada surat edaran dari Kementerian Ketenagakerjaan yang melarang pemberi kerja melakukan diskriminasi dalam proses perekrutan.
“Kita memang sudah mengeluarkan surat edaran, tapi memang Undang-Undang Ketenagakerjaan sedang berproses dengan inisiatifnya DPR,” jelasnya.
Ia menambahkan, jika perusahaan memang membutuhkan kualifikasi tertentu seperti lulusan S1 untuk posisi yang bersifat analitis, maka hal itu masih diperbolehkan selama sesuai ketentuan.
Dengan sederet tantangan ini, Menaker Yassierli mengakui bahwa pencapaian target besar ini membutuhkan kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat agar program penyerapan tenaga kerja dapat berjalan optimal.***
Artikel Terkait
BGN Sebut Program MBG Siap Ciptakan 90 Ribu Lapangan Kerja untuk Sarjana, Ini Rincian Jenis Lowongan Kerjanya!
BGN Yakin Program MBG Tak Cuma Ciptakan Lapangan Kerja Bagi Sarjana, Tapi Juga Genjot Ekonomi Daerah Lewat SPPG!
Prabowo Sebut Pengangguran RI Terendah Sejak 1998, Legislator DPR Dorong Strategi Baru Cipta Lapangan Kerja
Airlangga Pastikan Ekonomi RI Stabil, Lapangan Kerja Tetap Terjaga Meski Aksi Aspirasi Warnai Situasi Nasional
Luhut Puji Menkeu Purbaya, Yakin Target Ekonomi RI dan Cipta Lapangan Kerja Era Prabowo Bisa Tercapai
17 Paket Stimulus Ekonomi 2025 Resmi Diumumkan, Targetkan Jutaan Lapangan Kerja Baru di Berbagai Sektor