10,7 Juta Warga RI Butuh Pekerjaan Tiap Tahun, Kemenaker Soroti Pendidikan Rendah dan Janji 19 Juta Lapangan Kerja

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Jumat, 26 September 2025 | 17:39 WIB
Foto ilustrasi - Kemenaker sebut 10,7 juta warga Indonesia butuh pekerjaan.  (Instagran.com/kemenaker)
Foto ilustrasi - Kemenaker sebut 10,7 juta warga Indonesia butuh pekerjaan. (Instagran.com/kemenaker)

Mediapriangan.com - Persoalan ketersediaan lapangan kerja kembali menjadi sorotan serius pemerintah. Pertumbuhan angkatan kerja yang terus bertambah setiap tahun berpotensi memperbesar angka pengangguran jika tidak diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja baru.

Kepala Pusat Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, Surya Lukita Warman, mengungkapkan bahwa kebutuhan tenaga kerja di Indonesia tergolong besar. Setiap tahun ada sekitar 10,7 juta orang yang harus mendapatkan pekerjaan agar hak mereka terpenuhi sesuai amanat UUD 1945.

“Ada 10,7 juta orang yang butuh pekerjaan harus diopeni (diperhatikan) di mana amanat UUD 1945, seluruh warga negara berhak atas pekerjaan dan penghasilan layak untuk penghidupan,” ujar Lukita saat media briefing di Kantor Pusat Pasar Kerja Kemenaker, Jakarta, Jumat, 26 September 2025.

Baca Juga: Menaker Yassierli Ungkap Tantangan Buka 19 Juta Lapangan Kerja, Soroti Regulasi dan Seleksi Karyawan yang Rumit

Lukita menegaskan bahwa angka tersebut belum termasuk mereka yang terkena PHK atau sedang mencari pekerjaan baru setelah keluar dari pekerjaan lama.

Angka Pengangguran Masih Tinggi

Meski persentase pengangguran menurun hingga 4,8 persen—terendah sejak era reformasi—jumlah penganggur tetap tinggi secara absolut. Tercatat ada 7,2 juta warga yang belum memiliki pekerjaan.

Setiap tahun, sekitar 3,5 juta lulusan baru dari SMK, SMA, hingga perguruan tinggi masuk ke pasar kerja. “Mereka ini yang harus dicarikan pekerjaan,” tegas Lukita.

Baca Juga: 17 Paket Stimulus Ekonomi 2025 Resmi Diumumkan, Targetkan Jutaan Lapangan Kerja Baru di Berbagai Sektor

Rendahnya Kualifikasi Pendidikan

Selain persoalan jumlah lapangan kerja, kualitas tenaga kerja juga menjadi tantangan. Surya Lukita mengungkapkan bahwa sekitar 55–56 persen penduduk Indonesia masih memiliki kualifikasi pendidikan SMP ke bawah.

“Sekitar 55-56 persen penduduk kita kualifikasinya masih SMP ke bawah. SMP, bukan SMA. Tapi SMP ke bawah,” jelasnya.

Kondisi ini membuat banyak pencari kerja kesulitan memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan industri, sehingga penyerapan tenaga kerja berjalan lambat.

Baca Juga: Fenomena Gray Work Ganggu Produktivitas, 59 Persen Karyawan Akui Kerja Makin Sulit Meski Perusahaan Tambah Aplikasi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X