Di Balik Langkah Menkeu Purbaya Soal Pemutihan Produsen Gelap, Pasar Hasil Tembakau RI Hadapi Arah Baru

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Selasa, 7 Oktober 2025 | 19:47 WIB
Menyoroti pandangan influencer, dr. Indrawan Nugroho terkait perkembangan industri tembakau di Indonesia.  (Unsplash.com/@Katmed)
Menyoroti pandangan influencer, dr. Indrawan Nugroho terkait perkembangan industri tembakau di Indonesia. (Unsplash.com/@Katmed)

Dari jumlah itu, hasil tembakau masih menjadi tulang punggung utama penerimaan cukai nasional.

Namun, langkah menuju penataan ulang industri ini tidak mudah. Pasar hasil tembakau dalam negeri kini berada dalam situasi yang tidak stabil, dengan tekanan dari berbagai sisi—baik kebijakan fiskal maupun perubahan tren konsumsi.

Baca Juga: IKN Dikebut Jadi Ibu Kota Politik 2028, Basuki Lapor ke Istana dan Menkeu Purbaya Siapkan 3 Skema Pembiayaan

Industri Legal yang Kian Tertekan

Pengamat bisnis sekaligus influencer, Dr. Indrawan Nugroho, menyoroti dampak nyata kenaikan cukai yang signifikan dalam lima tahun terakhir, mencapai rata-rata 67,5 persen.

“Dampaknya jelas, harga produk melonjak, sementara daya beli masyarakat stagnan bahkan menurun,” terangnya.

Dalam situasi ini, produk tanpa cukai yang dijual dengan harga jauh lebih murah justru semakin merajalela. Indrawan menilai tekanan terhadap industri legal bukan hanya soal fiskal, tetapi juga karena perubahan perilaku konsumen yang kini lebih sadar kesehatan.

“Dulu menjadi simbol pergaulan dan gaya hidup, sekarang berubah konotasinya,” ujarnya.

Baca Juga: Polemik Subsidi LPG 3 Kg, Misbakhun Tegur Menkeu Purbaya, Bahlil Singgung Soal Data yang Dinilai Salah Baca

Masa Depan Industri yang Tak Lagi Cerah

Indrawan mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan penurunan signifikan konsumsi tembakau global—dari satu banding tiga orang dewasa pada tahun 2000 menjadi satu banding lima pada 2022.

Menurutnya, tren ini menjadi sinyal bahwa masa depan industri hasil tembakau tidak lagi secerah masa lalu. “Bertahan hanya dengan produk berbasis tembakau adalah strategi yang ketinggalan zaman,” katanya.

Ia bahkan menyarankan agar pelaku industri besar mulai melirik sektor lain yang lebih berkelanjutan, seperti teknologi, kesehatan, atau energi terbarukan.

“Bayangkan jika mereka berinvestasi di sektor kesehatan. Paradoks memang, tapi justru bisa jadi pilar baru yang stabil,” tutur Indrawan.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X