Mediapriangan.com - Gelombang tekanan politik dan fiskal mencuat di Jakarta. Sebanyak 18 gubernur dari berbagai daerah di Indonesia mendatangi Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa, 7 Oktober 2025.
Para kepala daerah yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) itu melayangkan tuntutan tegas terhadap kebijakan pemotongan dana transfer ke daerah (TKD), yang mereka anggap telah menekan pembangunan dan kesejahteraan ASN di tingkat daerah.
Pertemuan berlangsung panas. Para gubernur secara bergantian menyampaikan keluhan mereka mulai dari pembangunan infrastruktur yang terhambat, ancaman stagnasi ekonomi, hingga beban penggajian ASN yang semakin berat di tengah pengetatan anggaran.
Purbaya Akui Gejolak, Singgung Efisiensi Daerah
Dalam pertemuan tersebut, Menkeu Purbaya mengakui keresahan para kepala daerah. Ia menilai pemotongan TKD memang berdampak besar, tetapi menegaskan bahwa efisiensi anggaran di daerah juga perlu dibenahi.
“Kalau mereka mau bangun daerahnya kan harusnya dari dulu sudah bagus. Anggarannya enggak ada yang hilang sana-sini,” ujar Purbaya di hadapan awak media.
Meski begitu, Purbaya membuka peluang negosiasi. Ia menyebutkan bahwa pemerintah pusat akan meninjau ulang kebijakan fiskal menjelang pertengahan 2026. “Kalau ekonominya bagus, pajaknya naik, bea cukai enggak bocor, ya kita bagi ke daerah,” katanya.
Ia menambahkan, “Permintaan itu normal, tapi kan kita hitung kemampuan APBN seperti apa. Apalagi ini sembilan bulan pertama 2025 ekonominya melambat. Jadi kalau diminta sekarang, pasti saya enggak bisa.”
Gubernur Bobby Nasution hingga Muzakir Manaf Bersuara
Aksi ini diikuti oleh sejumlah gubernur dari berbagai wilayah, termasuk Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution dan Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Mereka kompak menuntut kejelasan arah kebijakan fiskal dan meminta pemerintah pusat bertanggung jawab terhadap dampak pemotongan TKD.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menyebut pemangkasan hingga 25 persen menjadi pukulan berat. “Semuanya, kami, mengusulkan supaya tidak dipotong. Anggaran kita tidak dipotong. Karena itu beban semua di provinsi kami masing-masing,” ujarnya selepas pertemuan.
Artikel Terkait
Cemburu Buta karena TikTok, Suami di Kabupaten Tasikmalaya Aniaya Istri hingga Bersimbah Darah
Skenario Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2026, Jalan Terjal Garuda dan Pesan Emosional Jay Idzes
Kebutuhan Ayam dan Telur Naik Akibat Program MBG? Kepala BGN Buka Suara Soal Dampaknya ke Harga Pasar
Teror Bom Guncang 3 Sekolah Internasional Tangsel–Jakut, Pelaku Minta Rp497 Juta Tebusan Lewat Bitcoin