“Padahal kelebihan narik anggaran, dana ke daerah (kebijakan Menkeu terdahulu) sangat bobrok,” imbuhnya.
Ia juga menyoroti kebijakan fiskal di era Sri Mulyani yang dianggap berkontribusi besar terhadap melonjaknya utang negara.
“Sebagai pejabat publik, apa hasilnya kebijakan Sri Mulyani? Menaikkan utang dari Rp8.000 triliun menjadi Rp24.000 triliun,” sebut Said Didu.
“Menaikkan cicilan utang dari Rp400 triliun menjadi Rp1.600 triliun, bunga utang dari 2 persen menjadi 6–7 persen,” lanjutnya.
Menurut Said Didu, total utang Indonesia sebenarnya jauh lebih besar dari angka yang disampaikan pemerintah.
“Maka ini kotak pandoranya dibuka (oleh Purbaya),” tegasnya.
Ia menyebut, jika memperhitungkan seluruh kewajiban termasuk utang BUMN, dana pensiun, dan beban tanggungan, nilainya bisa mencapai Rp24.000 triliun.
Dengan munculnya pernyataan Menkeu Purbaya soal Whoosh dan kritik Said Didu, publik kini menanti arah baru kebijakan fiskal pemerintah serta transparansi pengelolaan anggaran proyek infrastruktur di masa mendatang.***
Artikel Terkait
Dugaan Korupsi di Proyek Whoosh Kian Panas, Mahfud MD Desak KPK Tak Tunggu Laporan, Biaya 3 Kali Lipat dari China
Utang Whoosh Bengkak Rp75 Triliun, Harris Turino Desak Audit Forensik dan Reformasi Sistem Pengadaan Proyek Nasional
Utang Whoosh Jadi Sorotan, Danantara Siap Terbang ke China Bahas Skema Baru, Purbaya Tegas Tak Ikut Campur
Kontrak Whoosh Indonesia-China Dipertanyakan, Mahfud MD Soroti Transparansi dan Opsi Restrukturisasi Utang
Mahfud MD Siap Dipanggil KPK Terkait Dugaan Mark Up Proyek Whoosh, Tapi Tegas Tolak Buat Laporan Resmi
Wariskan Whoosh dengan Utang Rp116 Triliun, Jokowi Tegaskan Transportasi Umum Tak Diukur dari Laba