SUKABUMI, Mediapriangan.com - Tangis keluarga menyelimuti kasus dugaan penganiayaan anak yang terjadi di Sukabumi. Bocah berusia 12 tahun berinisial NS meninggal dunia setelah diduga mengalami kekerasan, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan publik yang mengikuti perkembangan kasus ini.
Peristiwa di Sukabumi itu menjadi sorotan setelah beredar video yang memperlihatkan korban dalam kondisi lemah di rumah sakit. Dugaan penganiayaan anak pun mencuat dan memicu kemarahan masyarakat. Kini, proses autopsi NS telah dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian, sementara hasil laboratorium forensik masih ditunggu.
Di balik kasus dugaan penganiayaan anak tersebut, tersimpan cerita tentang cita-cita sederhana seorang bocah yang ingin mengabdikan hidupnya di jalan agama. NS diketahui telah menempuh pendidikan di pondok pesantren selama setahun terakhir. Ayah kandungnya, Anwar Satibi, tak kuasa menahan tangis saat mengenang impian putranya.
Baca Juga: Kronologi Autopsi NS di Sukabumi Terungkap, Dugaan Penganiayaan Anak 12 Tahun Jadi Sorotan
“Beda dari orang lain, dia ingin jadi kiai. Itu yang membuat saya sakit,” ucap Anwar pada Jumat, 20 Februari 2026.
Ia juga mengingat momen terakhir sebelum anaknya kembali ke pondok pesantren di Sukabumi.
“Kemarin saat saya pulang dari Sukabumi, saya kasih uang Rp50 ribu, ‘Alhamdulillah untuk bekal di pesantren,’” tambahnya.
Menurut penuturannya, perubahan besar terjadi setelah anaknya tinggal terpisah dari rumah.
“Setahun ini pas mau masuk SMP, dulunya bareng (serumah),” tuturnya lagi.
Kasus dugaan penganiayaan anak ini bukan kali pertama terjadi. Anwar mengaku sebelumnya pernah melaporkan peristiwa serupa ke pihak berwajib di Sukabumi. Namun laporan tersebut tak berlanjut setelah ada permohonan maaf dari istrinya.
“Sebelumnya dulu juga pernah terjadi penganiayaan, saya laporkan, cuma istri saya datang memohon, sujud ke saya dan akhirnya saya minta saran ke Pak Asep dan tidak ada salahnya memaafkan siapa tahu berubah,” terangnya.
“Dibikinkan surat pernyataan dan video pernyataan, dan sebetulnya laporan tersebut belum dicabut. Itu setahun yang lalu, kelas 6 SD kan sekarang kelas 1 SMP,” tambahnya.
Artikel Terkait
Tenang tapi Mematikan, Annie Michem Bawa Phonska Plus Tekuk Electric PLN dan Puncaki Klasemen Proliga 2026 Putri
Cordela Suites Tasikmalaya Hadirkan Dapur Ramadhan, All You Can Eat Nusantara dan Grand Prize Menarik
Waspada, Situs Disdukcapil Pangandaran Palsu, Hindari Memasukkan Data Pribadi
Mau Mudik Naik Bus Tapi Motor Tetap Sampai Kampung? Simak Program Honda 2026
Sifa Anak Sulung Korban Truk Kontainer Karawang Cari Cincin Berharga Peninggalan Mama
Korban Kecelakaan Jalan Jogja-Solo Kehilangan Motor Saat Dibawa ke RS, Warganet Kecewa