Baca Juga: Lapas Kelas II B Tasikmalaya Overload, Ruang Kapasitas 88 Orang Dipaksa Tampung 462 Narapidana
"Syaratnya itu tadi harus masuk dulu ke sistem," katanya.
Konsistensi aktivitas bank sampah terang Dewi, mulai dari pemilahan, penimbangan dan pengolahan hingga penjualan ke pengepul.
Semua itu harus ada datanya termasuk data serapan sampahnya per hari berapa, per minggu berapa dan per bulan berapa.
"Itu nantinya dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup. Jadi bukan sekedar pekerjaan fisik saja tetapi secara administrasi juga mereka harus punya," katanya.
Dikatakan Dewi, dengan adanya bank sampah tersebut sampah yang dibuang ke TPA hanya berupa residu dengan jumlah sekitar 30 persen dari sampah yang ada.
"Karena untuk sampah organik dan on-organiknya sudah kita olah di bank sampah. Sampah organik kita kelola di rumah dan yang on-organiknya yang masih bernilai ekonomi kita tabungkan di bank sampah. Bayangkan bila itu bisa dilakukan oleh 50 persen warga Kota Tasik sudah dipastikan sampah yang dibuang ke TPA akan sangat berkurang," ujar Dewi.
Dalam kesempatan tersebut Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra juga menyempatkan melihat tempat sampah sistem biopori termasuk melihat kandang ayam yang terbuat dari botol bekas.***
Artikel Terkait
Penerapan Parkir Non Tunai, Cegah Kebocoran Pendapatan Parkir di Kota Tasikmalaya
Ungguli OPD Lain, Diskominfo Kota Tasikmalaya Juara Pertama Reformasi Birokrasi 2025
Lima Tahun Permatadora Konsisten Penuhi Kebutuhan Darah di Kota Tasikmalaya
Rekor Sejarah! Kuota Haji Kota Tasikmalaya 2026 Melonjak Dua Kali Lipat, Viman Alfarizi Lepas 1.348 Jemaah